Samsurin: Seperti Ini Skema Militansi Suara Pemilih Pilkada Surabaya

avatar Harian Nasional News
Ketua DPC PBB Kota Surabaya, Samsurin dan poster Pilwali Kota Surabaya 2020
Ketua DPC PBB Kota Surabaya, Samsurin dan poster Pilwali Kota Surabaya 2020

Surabaya, HNN - Seperti ini skema militansi suara pemilih Pilkada Kota Surabaya yang akan direncanakan pada bulan desember 2020.

Beberapa hari ini broadcast di beberapa group Whatshapp menampilkan poster MA dan Reni Astuti ketua Fraksi PKS DPRD kota surabaya, dalam koalisi borongan MA. PKS hanya menempati urutan ke 4 di bawah Demokrat dan Gerindra, ungkap Ketua DPC PBB Kota Surabaya, Samsurin, yang akrab disapa dengan panggilan Surin, Kamis (23/07/2020).

Baca Juga: Putra Indramayu Siap Maju Jadi Bakal Cabup Bekasi

Lanjut Surin menjelaskan, papan atas di koalisi ini tetap PKB yang hampir dipastikan tidak tertarik sama sekali untuk mengusung kader nya sendiri guna dipasangakan dengan MA, padahal PKB punya pengalaman babak belur dihajar pasangan yang di usung PDIP dalam Pilwali Kota Surabaya sebelum sebelumnya.

"Selama ini saya aktif dalam menciptakan statistik data dan karakter suara pemilih di Kota Surabaya, mestinya saat inilah PKB menyerang balik disaat komando PDIP di surabaya terjadi faksi faksi," kata Surin.

Surin menambahkan, dibandingkan Partai Demokrat yang mempunyai ranking bobot koalisi di MA, hanya PKB lah sebenarnya yang memiliki basis suara yang militan, karena suara PKB lebih banyak didominasi kaum Nahdliyin dan suara milenial jebolan organisasi kampus seperti PMII. Serta sayap sayap banom NU, Tapi sayang PKB kayaknya kapok bertarung kembali di pilwali surabaya 2020 kali ini.

Baca Juga: DPC Partai Bulan Bintang Kota Surabaya Gelar Aksi Menebar Kebaikan

"Jika MA dipaksa ambil pasangan dari koalisinya , maka pilihannya hanya ada di dalam kader Golkar, seperti milenial Arif fatoni ketua DPD II Partai Golkar dan ada ciri khas hijau pupus yaitu Gus Hans yang juga pengurus DPD I Partai Golkar Jatim," ungkapnya.

Bagaimana dengan peluang MA jika mengandeng PKS yang notabene mewakili islam yang lahir di kampus kampus dan di dominasi kaum cendekiawan ? "Saya kira sangat susah jika MA bisa menang dengan militansi PDIP yang hampir menguasai basis mutlak yaitu 10,8 persen, sementara militansi di PKS dan partai koalisi rata rata 1,5 persen kecuali PKB yang 3 persen," jelas Surin.

Baca Juga: Etos Indonesia: Tri Adhianto Harus Jeli dalam Memilih Calon Pendampingnya

"Suara militansi ini adalah suara orang yang mencoblos berdasarkan fanatisme kepada partai, atau disebut suara partai. MA tidak punya pilihan lain selain memborong habis dan melihat potensi PSI yang memiliki kecendruangan suara militan yang mutlak 3 Persen yang hampir menyamai PKB, atau paling apes jika tidak bisa mengandeng PSI mau tidak mau MA harus mencari pasangan yang mampu mengejawantakan karakter orang surabaya, yaitu perpaduan akulturadi ras jawa, madura dan arab. Bisa saya simpulkan itu adalah kader NU," tandas Surin.

"Jika sama sama para Cawawali nanti berasal dari kader kader NU maka peluang MA menang semakin tipis. Tapi jika pasangan PDIP diambil dari kloning birokrasi ala Risma maka PDIP jangan berharap bisa melanjutkan tahta yang selama ini didudukinya. Bisa- bisa kalah tipis dari MA. Nah, seperti itulah skema militansi suara pemilih dalam retorika, pada Pilwali Surabaya 2020 akan datang," pungkas Surin (Rin)

Editor : Redaktur