Pers Nasional dan Tanggung Jawab Menjernihkan Zaman
Oleh : Abdul Rasyid
Di tengah dunia yang semakin bising oleh notifikasi, algoritma, dan arus informasi tanpa henti, pers nasional tetap berdiri sebagai penunjuk arah. Ia bukan yang paling cepat, tetapi yang menyampaikan pesan kejujuran atas suatu peristiwa. Bukan yang paling ramai, tetapi yang berupaya bertanggung jawab pada publik. Di sanalah pers menemukan maknanya: menjadi jendela informasi yang mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hari ini, tantangan pers tidak lagi sekadar menyampaikan fakta. Di era kecerdasan buatan (AI) dan media sosial, informasi dapat diproduksi dalam hitungan detik, direplikasi tanpa batas, dan disebarkan tanpa verifikasi. Batas antara kebenaran dan rekayasa menjadi semakin kabur. Di tengah situasi ini, pers nasional dituntut tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga teguh secara etika.
Dari sisi pengetahuan, pers berperan sebagai penjernih. Ketika AI mampu menulis, merangkum, bahkan memanipulasi teks dan gambar, pers justru harus memperkuat kerja jurnalistik berbasis verifikasi, konteks, dan tanggung jawab. Pers tidak bersaing dengan mesin dalam kecepatan, tetapi menjaga kualitas akal sehat manusia dalam memahami realitas.
Secara sosial, pers nasional tetap menjadi ruang bersama. Media mempertemukan suara yang beragam, dari desa hingga kota, dari pusat kekuasaan hingga pinggiran. Di saat media sosial kerap memperkuat gema kelompok sendiri dan memecah ruang publik ke dalam gelembung algoritma, pers hadir sebagai jembatan yang dapat menyatukan perbedaan dalam percakapan kebangsaan yang rasional dan beradab.
Dalam bidang ekonomi, peran pers semakin menentukan. Pemberitaan yang jernih dan berimbang membantu publik memahami arah kebijakan, kondisi pasar, serta dampak global terhadap kehidupan sehari-hari. Isu ketahanan pangan dan energi menjadi sorotan penting, karena kedaulatan ekonomi tidak dibangun dari spekulasi, melainkan dari keberlanjutan dan keadilan distribusi. Pers yang sehat mengawal agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi memperkuat fondasi bangsa.
Dari perspektif politik, pers nasional tetap menjadi penyangga demokrasi. Pers secara independen mengawasi kekuasaan tanpa rasa takut, memberi ruang kritik tanpa kebencian, dan menjaga agar perbedaan pendapat tidak berubah menjadi perpecahan. Di tengah maraknya disinformasi politik yang diproduksi dan diperkuat oleh teknologi digital, pers memikul tanggung jawab besar untuk meluruskan, bukan memanaskan.
Dalam dimensi budaya, pers nasional berperan merawat ingatan dan identitas. Di tengah arus globalisasi dan budaya instan, pers memberi ruang bagi nilai-nilai lokal, bahasa, dan kearifan nusantara. Modernitas tidak harus menghapus jati diri; pers membantu bangsa Indonesia melangkah maju tanpa tercerabut dari akarnya.
Pada ranah hukum, pers tetap menjadi mata publik. Dengan jurnalisme yang berimbang dan beretika, pers mengawal keadilan, menyoroti penyimpangan, dan memberi suara bagi mereka yang kerap tak terdengar. Di tengah banjir opini liar di media sosial, pers menjaga agar hukum dibahas dengan data, konteks, dan tanggung jawab.
Tantangan terbesar pers hari ini adalah disinformasi; informasi palsu yang dikemas meyakinkan, diperkuat oleh algoritma, dan sering kali diproduksi dengan bantuan AI. Di sinilah pers nasional diuji. Bukan hanya sebagai penyedia berita, tetapi sebagai penjaga nalar publik. Pers yang sehat adalah pers yang berani mengungkap dan menyajikan informasi untuk memastikan kebenaran.
Di tengah persaingan global, pers nasional ikut membangun kepercayaan diri bangsa. Dengan narasi yang jujur dan berimbang, pers memperlihatkan Indonesia apa adanya dengan capaian dan tantangannya, sekaligus mendorong perbaikan. Pers bukan alat propaganda, melainkan sebagai cermin bangsa dalam membangun jiwa dan raga bangsa dan negara Indonesia.
Pada akhirnya, pers yang sehat adalah fondasi bangsa yang kuat. Pers memperkokoh persatuan, menjaga kedaulatan, dan ikut mendorong ekonomi yang tumbuh dan berdaulat di tengah dunia yang terus berubah.
Semangat Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026, dengan tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, pers nasional diharapkan terus setia pada kebenaran, berpihak pada kepentingan publik, dan menjadi cahaya penuntun di tengah zaman yang semakin kompleks demi Indonesia yang berdaulat, adil, dan bermartabat.
Penulis : Abdul Rasyid - Sekjen DPP LPKAN Indonesia, Aktivis, Pemerhati Kebijakan Publik, Pendidikan, dan kebudayaan. Aktif menulis isu-isu politik, sosial, dan budaya di berbagai media nasional.
Editor : Redaktur