Dobrak Sekat Eksklusivitas, Unesa Bekali Guru SMP Magetan Senjata ‘Modul Inklusi’

MAGETAN, HNN - Pendidikan Pancasila di ruang-ruang kelas SMP se-Kabupaten Magetan kini tengah memasuki babak baru. Tidak lagi sekadar narasi tekstual, nilai-nilai luhur bangsa kini mulai diterjemahkan ke dalam tindakan nyata melalui kurikulum yang memanusiakan manusia.

Adalah tim ahli dari Program Studi S2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), FISIPOL, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang menginisiasi gerakan ini. 

Baca Juga: Peta Kekuatan Proliga 2026: Mengintip Peran UNESA sebagai "Dapur" Sport Science dan Talenta Nasional

Lewat program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), mereka menggandeng Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Pancasila SMP se-Magetan untuk merombak wajah ruang kelas menjadi lebih inklusif dan ramah anak.

Membedah Labirin Pendidikan Inklusi

Pelatihan bertajuk “Merancang Modul Ajar Berbasis Pendidikan Inklusi” ini bukan sekadar seremoni akademik. Di bawah komando Prof. Dr. Hj. Rr. Nanik Setyowati, M.Si., para guru ditantang untuk mampu menyusun perangkat ajar yang sanggup merangkul siswa dengan berbagai latar belakang, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus (ABK).

“Kita ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal di belakang (leave no one behind). Guru harus memiliki keterampilan teknis untuk memodifikasi modul, mulai dari bahan ajar hingga instrumen evaluasi yang adaptif,” tegas Prof. Nanik di Aula Kampus 5 UNESA Magetan.

Maraton Intelektual 64 Jam

Ketajaman program ini terlihat dari desain pelatihannya yang intensif. Selama 64 jam pelajaran, para guru didampingi secara hibrida (luring dan daring) dalam delapan tahap sistematis. Tim dosen yang terdiri dari Dr. Harmanto, M.Pd, Rianda Usmi M.Pd, dan Budi Santosa, M.S.I, melakukan "bedah modul" secara berkala setiap dua minggu.

Baca Juga: Gebrakan Baru! Unesa Jadi Kampus Pionir Olahraga Domino, Rektor ‘Cak Hasan’ Siap Wadahi Jadi UKM

Hasilnya? Para pendidik dari 39 sekolah kini mulai mahir menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan media pembelajaran yang tidak seragam, melainkan menyesuaikan spektrum kemampuan siswa yang beragam.

Suara dari Akar Rumput

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magetan, Drs. Suwata, M.Si., memberikan apresiasi tinggi pada langkah taktis UNESA ini. Menurutnya, kesadaran akan inklusivitas adalah kunci menuju sekolah masa depan.

Senada dengan itu, Ketua MGMP Pendidikan Pancasila Magetan, Panca Hutama, S.Pd., M.Pd., merasakan dampak emosional dan profesional yang kuat. "Setiap anak punya potensi unik. Tugas kami adalah memastikan mereka merasa diterima dan didukung. Pelatihan ini memberikan contoh praktik nyata yang selama ini sulit kami temukan di buku teks," ungkapnya.

Baca Juga: UNESA Total Bagikan 99.000 Menu Buka Bersama Selama 22 Hari Saat Ramadhan 1447 H

Sementara itu, Titik Yulianti, S.Pd., guru dari SMPN 1 Karas, menyebut pelatihan ini sebagai "suplemen wajib" bagi guru di abad ke-21. "Kami kini dibekali strategi konkret untuk mengelola keragaman kelas yang semakin kompleks," ujarnya penuh syukur.

Harapan Nasional

Gerakan dari Magetan ini diharapkan menjadi blueprint bagi daerah lain di Indonesia. Ketika Pendidikan Pancasila bertemu dengan semangat inklusivitas, sekolah bukan lagi sekadar tempat mencari nilai, melainkan laboratorium kemanusiaan yang adil dan beradab.

UNESA melalui PKM ini membuktikan bahwa pengabdian perguruan tinggi mampu menyentuh akar persoalan pendidikan nasional: menciptakan ekosistem belajar yang humanis, inklusif, dan tak berbatas. (M. Fasichullisan)

Editor : Redaktur