Arsitektur Demokrasi Ridwan Hisjam: Menjaga Stabilitas di Tengah Polarisasi

Foto:Istimewa
Foto:Istimewa

SURABAYA, HNN - Ridwan Hisjam menegaskan bahwa penguatan arsitektur demokrasi menjadi kunci menjaga stabilitas nasional di tengah meningkatnya polarisasi politik, sekaligus fondasi penting dalam mengarahkan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

Politisi senior Partai Golkar, Ridwan Hisjam, menegaskan pentingnya peran demokrasi sebagai kekuatan penyeimbang di tengah dinamika politik Indonesia yang kerap diwarnai kegaduhan dan polarisasi. Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di panggung nasional, ia menjadi saksi sekaligus pelaku perjalanan politik Indonesia sejak era Orde Baru, reformasi, hingga masa demokrasi modern saat ini.

Baca Juga: MP Tolak Gugatan Nofel Terkait Musda Kota Bekasi, Ikhsan Nurjamil: Ini Kemenangan Golkar Jabar

Menurut Ridwan Hisjam, demokrasi Indonesia kerap menghadapi tantangan berupa gesekan kepentingan yang tajam. Namun, dalam situasi tersebut, demokrasi yang kuat harus mampu hadir sebagai instrumen stabilisasi yang mencegah perpecahan. Ia menekankan bahwa sistem demokrasi yang sehat memiliki tanggung jawab untuk melindungi seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok minoritas, serta memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama.

“Demokrasi yang sejati bukan soal dominasi mayoritas, tetapi bagaimana memberikan perlindungan strategis bagi semua pihak, termasuk suara yang kecil agar tetap memiliki ruang dalam sistem hukum,” ujarnya.

Ridwan Hisjam juga menyoroti pentingnya komunikasi politik yang deliberatif dan inklusif dalam meredam konflik. Menurutnya, kepemimpinan yang efektif bukanlah yang memperkeruh suasana melalui retorika provokatif, melainkan yang mampu membangun jembatan di tengah perbedaan.

Ia mengusung pendekatan yang disebut sebagai filosofi “beringin yang teduh”, yakni menjadikan institusi politik sebagai ruang perlindungan bagi seluruh aspirasi masyarakat. Melalui dialog lintas generasi dan komunikasi antar faksi, pendekatan ini dinilai mampu mengurangi potensi konflik horizontal sekaligus mengarahkan energi politik ke arah pembangunan yang lebih produktif.

Baca Juga: Plt Wali Kota Bekasi Didesak Pecat Pegawai BUMD dan TP3 yang Berafiliasi Kepada Partai Politik

Dalam konteks menuju visi Indonesia Emas 2045, Ridwan Hisjam menegaskan bahwa kedewasaan berdemokrasi merupakan prasyarat utama. Ia mengingatkan bahwa politik identitas dan kepentingan jangka pendek dapat menghambat kemajuan bangsa jika tidak dikelola dengan baik.

“Penguatan ideologi Pancasila harus menjadi titik temu dalam merangkul keberagaman, sehingga kegaduhan dapat ditransformasi menjadi harmoni pembangunan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan yang tidak hanya unggul secara teknokratis, tetapi juga matang secara emosional dan ideologis. Generasi muda, menurutnya, perlu dibimbing agar mengedepankan etika politik yang berorientasi pada kepentingan nasional, bukan sekadar kepentingan kelompok.

Baca Juga: Imbas Kader Korup Abaikan Kemajuan Golkar Bekasi

Di akhir pernyataannya, Ridwan Hisjam menegaskan bahwa sinergi antara sistem demokrasi yang kuat dan kepemimpinan yang berwibawa menjadi kunci dalam menjaga keutuhan dan martabat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Setiap tantangan harus diubah menjadi peluang kemajuan. Kepemimpinan sejati adalah tentang menjaga harmoni, menegakkan keadilan, dan memastikan seluruh rakyat dapat melangkah bersama menuju masa depan yang gemilang,” pungkasnya. (red) 

Editor : Redaktur