Memutus Rantai Kemiskinan Struktural Lewat Kekuatan Ekonomi Pesantren

Oleh: H. Imaduddin Masruri (Gus Imad)

Dinobatkan sebagai kabupaten dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, adalah sebuah stigma yang menyakitkan. Tapi di balik stigma itu, ada potensi besar yang selama ini tertidur, kekuatan ekonomi pesantren dan keumatan.

Inilah yang menjadi alasan lahirnya Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren).

Kita harus jujur. Selama ini pesantren diposisikan hanya sebagai lembaga pendidikan agama. Padahal, pesantren adalah pusat peradaban ekonomi. Ada santri, ada wali santri, ada alumni, ada masyarakat sekitar, ada lahan, ada UMKM, ada koperasi. Semua itu adalah ekosistem ekonomi yang jika dikelola dengan serius, akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Hebitren hadir bukan untuk gagah-gagahan organisasi. Hebitren hadir dalam rangka meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dan keumatan. Tujuannya jelas: mengentaskan kemiskinan dari basis yang paling kuat, yaitu pesantren.

Apa yang akan dilakukan Hebitren?

Pertama, memutus mata rantai kemiskinan struktural. Selama ini masyarakat kita menjadi penonton di tanahnya sendiri. Produk dari luar masuk, uang keluar. Hebitren akan mendorong kemandirian: pesantren memproduksi, masyarakat mengonsumsi, perputaran uang tetap di dalam daerah.

Kedua, mengkonsolidasikan kekuatan bisnis pesantren. Banyak pesantren yang sudah memiliki usaha: air minum, pertanian, peternakan, konveksi, mart, hingga properti. Tapi berjalan sendiri-sendiri. Hebitren akan menjadi holding, menjadi jembatan, menjadi agregator agar skala ekonominya naik dan memiliki daya tawar.

Ketiga, menciptakan pengusaha santri. Kita tidak kekurangan ustadz. Kita kekurangan pengusaha yang paham agama. Melalui Hebitren, santri tidak hanya diajarkan kitab kuning, tapi juga diajarkan cara membuat business plan, cara mengakses permodalan, cara digital marketing. Santri harus menjadi juragan.

Ketika kabupaten kita dicap miskin, jangan dijawab dengan keluhan. Jawab dengan gerakan. Dan gerakan ekonomi berbasis pesantren adalah gerakan yang paling logis dan paling religius.

Karena dalam Islam, kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Maka memerangi kemiskinan adalah bagian dari dakwah.

Kami optimis, jika Hebitren ini dikelola secara amanah, profesional, dan berjamaah, maka dalam beberapa tahun ke depan, predikat kabupaten termiskin itu akan hilang. Berganti menjadi kabupaten dengan ekonomi pesantren terkuat di Indonesia.

Saatnya pesantren tidak hanya menjadi mercusuar akhlak, tapi juga menjadi mercusuar ekonomi umat.

Penulis: Ketua Hebitren Jawa Tengah

Editor : D1N