BRIN Siapkan Uji Coba Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla

Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

JAKARTA, HNN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan uji coba teknologi tepung berbahan dasar singkong untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala BRIN Arif Satria mengatakan penelitian tersebut telah rampung dan komponen bahan baku yang dibutuhkan sudah tersedia.

"Yang singkong itu, kan harus ada APP-nya (ammonium polyphosphate) itu ya. Nah, APP-nya kita sudah dapatkan, yang sudah diuji on-site. Nah kemarin juga sudah kita laporkan juga. Sudah kita laporkan bahwa ini sudah siap untuk diuji di lapangan," Ujar Arif di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Hari Selasa (27/10/2026).

Arif menyampaikan bahwa BRIN juga menyiapkan sejumlah inovasi teknologi untuk mendukung operasi tersebut, BRIN turut terlibat dalam penanganan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).

"Jadi insyaallah kita akan mencoba untuk beberapa inovasi ya, terkait dengan OMC untuk Dumikron, nah ya. Kemudian teknologi coSAT ya, kemudian teknologi dry ice," ucapnya.

Arif mengatakan berbagai inovasi tersebut akan diimplementasikan untuk membantu mempercepat penanganan karhutla. BRIN juga akan terus berkolaborasi dengan sejumlah pihak, mulai dari TNI Angkatan Udara (TNI AU), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Rencana pengujian tepung singkong untuk memadamkan karhutla sebelumnya mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan uji coba produksi massal teknologi tersebut. Instruksi itu disampaikan saat Prabowo memimpin rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatra Selatan, pada hari Senin (24/08/2026).

Presiden Prabowo meminta teknologi tersebut diuji untuk mengetahui efektivitasnya dalam memadamkan api. Pengujian juga mencakup kemungkinan penggunaan bahan tersebut melalui helikopter, seperti dalam operasi water bombing.

BRIN sebelumnya juga mengungkap potensi tepung singkong sebagai alternatif bahan pemadam kebakaran hutan dan lahan melalui pengembangan material retardan berbasis pati singkong. Bahan tersebut dikombinasikan dengan senyawa fosfat untuk meningkatkan efektivitas penggunaan air dalam pengendalian kebakaran vegetasi.

Periset Kimia Molekuler BRIN, Julinton menjelaskan bahwa pengembangan material tersebut memiliki dasar ilmiah yang dapat diteliti lebih lanjut. Meski begitu formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya masih harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur.

"Namun, formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur," Ujar Julinton.

Menurut Julinton struktur polisakarida dalam pati singkong mengandung gugus hidroksil yang dapat dimodifikasi untuk mengatur kemampuan pembentukan film, viskositas, retensi air, serta interaksinya dengan komponen retardan.

Pati singkong tersebut perlu dikombinasikan dengan senyawa lain, seperti ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah. Teknologi yang tengah Arif menyampaikan bahwa BRIN juga menyiapkan sejumlah inovasi teknologi untuk mendukung operasi tersebut. dikembangkan itu disebut CASSA-P atau Singkong-APP.

Julinton menjelaskan bahwa setiap komponen memiliki fungsi berbeda dalam proses pemadaman. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Sementara itu, pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan daya lekat dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi.

Adapun wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP berperan memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas.

"Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi, sementara wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas," Julinton menjelaskan.

Campuran tersebut dapat membentuk residu karbon padat atau lapisan charyang berpotensi menjadi penghalang perpindahan panas dan massa. Lapisan ini juga dapat membatasi kontak langsung antara permukaan bahan bakar dan oksigen.

Mekanisme utama Singkong-APP meliputi pendinginan, peningkatan pembasahan dan retensi cairan, serta perubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar vegetasi yang berpotensi menekan laju perambatan api.

Meski berpotensi membantu penanganan karhutla, teknologi Singkong-APP tetap harus digunakan secara terintegrasi dengan pengerahan personel darat dan sistem pemadaman lainnya.

Pada kebakaran berintensitas tinggi, teknologi tersebut tidak ditujukan untuk menggantikan metode pemadaman yang telah tersedia. Singkong-APP diposisikan sebagai teknologi pendukung untuk respons awal, pengendalian penyebaran api, perlindungan area strategis, serta pemadaman titik api atau spot fire.

Maka dari itu efektivitas dan keamanan penggunaannya masih perlu dipastikan melalui pengujian sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan secara lebih luas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
(Mina, Ayu)

Editor : D1N