SURABAYA , HNN — Empat medali dan sebuah rekor Asia menjadi penegas kelas Maulana Rifky Yavianda di panggung olahraga disabilitas Asia. Perenang Indonesia yang tengah menempuh pendidikan S-2 Manajemen Olahraga di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu menutup Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 dengan dua medali emas dan dua medali perak. Lebih dari sekadar berdiri di podium, Rifky membuktikan kemampuannya menundukkan persaingan elite Asia, termasuk perenang tuan rumah Jepang, sekaligus mempertajam rekor di nomor gaya punggung.
Di Nagoya, Jepang, pada 18–24 Oktober 2026, Rifky tampil sebagai salah satu andalan Indonesia dari cabang olahraga para renang. Ia meraih emas nomor 100 meter gaya bebas S12 dan 100 meter gaya punggung S12 putra, serta perak nomor 100 meter gaya kupu-kupu S12 dan 50 meter gaya bebas S13 putra. Puncak penampilannya terjadi ketika ia memecahkan rekor Asia pada nomor 100 meter gaya punggung S12 dengan catatan waktu 1 menit 3,07 detik. Capaian itu sekaligus melampaui rekor Asian Para Games yang sebelumnya ia bukukan sendiri di Hangzhou pada 2023.
Baca Juga: DUET AULIA-GENDHIS SEGEL EMAS KEJURNAS AKUATIK 2026, SINYAL BAHAYA BAGI RIVAL!
Rekor Asia, Jawaban di Kolam Persaingan
Momen paling menentukan hadir di Nagoya City General Gymnasium, Selasa (20/10/2026). Di nomor final 100 meter gaya punggung S12 putra, Rifky menyentuh garis finis dalam waktu 1 menit 3,07 detik. Ia mengungguli perenang Jepang, Genki Saito, yang mencatatkan 1 menit 3,76 detik, sedangkan medali perunggu menjadi milik Dmitriy Khorlin dari Uzbekistan dengan waktu 1 menit 5,77 detik.
Kemenangan itu bukan sekadar tambahan emas. Rifky mematahkan rekor Asia sebelumnya, 1 menit 3,46 detik, yang dicatat Saito pada Mei 2026. Ia sekaligus mempertajam rekor Asian Para Games miliknya sendiri, 1 menit 3,55 detik, yang dibukukan di Hangzhou tiga tahun sebelumnya.
Di hadapan pesaing dari negara dengan tradisi olahraga kompetitif, Rifky menjawab tekanan melalui kecepatan, ketepatan, dan konsistensi. Keunggulan 0,69 detik atas Saito memperlihatkan bahwa persaingan berlangsung ketat hingga sentuhan akhir. Emas tersebut juga melengkapi kemenangan Rifky pada nomor 100 meter gaya bebas sehari sebelumnya.
Sebelumnya, pada Senin (19/10/2026), Rifky mengawali perburuan medali dengan menjuarai nomor 100 meter gaya bebas S12 putra. Ia mencatatkan waktu 55,34 detik, hanya unggul 0,10 detik dari Khorlin yang finis dalam 55,44 detik. Saito menempati posisi ketiga dengan waktu 57,54 detik. Kemenangan itu menjadi medali emas pertama Indonesia dalam penyelenggaraan Asian Para Games 2026.
Dua kemenangan tersebut memperlihatkan kemampuan Rifky bersaing dalam dua nomor berbeda. Ia tidak hanya menjaga kecepatan pada gaya bebas, tetapi juga menunjukkan daya saing pada gaya punggung hingga mampu menorehkan rekor Asia. Dua medali perak dari nomor lainnya melengkapi kontribusinya bagi kontingen Merah Putih.
Mengelola Tekanan, Menjaga Fokus
Di balik hasil gemilang itu, Rifky tidak menutupi kenyataan bahwa tekanan tetap hadir. Sebelum bertanding, ia sempat merasa gugup ketika melihat kualitas lawan-lawannya. Meski pelatih tidak menetapkan target medali emas secara khusus, ia memiliki sasaran pribadi untuk tampil sebaik mungkin.
“Jujur, kalau berangkat dari sini sebenarnya target dari pelatih juga nggak ada. Untuk target diri sendiri itu ada. Cuma setelah sampai sini, lihat lawan-lawan, ya sempat deg-degan,” ungkap Rifky.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari prosesnya sebagai atlet. Pada nomor gaya punggung, ia memilih lebih rileks dan menikmati perlombaan, tanpa kehilangan fokus pada performa sendiri. Pendekatan itu berbuah hasil: bukan hanya kemenangan, melainkan juga rekor Asia.
Bagi Rifky, rekor bukan garis akhir. Catatan waktu 1 menit 3,07 detik justru menjadi tolok ukur baru untuk latihan berikutnya. Ia ingin terus memperbaiki performa dan mempertajam catatan waktunya, karena persaingan internasional menuntut peningkatan yang berkelanjutan.
Mahasiswa S-2 dan Atlet Nasional
Baca Juga: Sidoarjo Lahirkan Trio Sprinter "Monster": Ancaman Baru bagi Takhta Atletik Nasional
Kiprah Rifky memiliki dimensi lain di luar kolam renang. Di tengah tuntutan latihan dan kompetisi internasional, ia juga menjalani pendidikan magister Manajemen Olahraga di FIKK Unesa. Peran ganda itu memperlihatkan bahwa pengembangan prestasi atlet tidak harus menempatkan pendidikan sebagai urusan kedua.
Pengalaman sebagai atlet memberinya kesempatan memahami langsung tuntutan performa, disiplin latihan, pengelolaan tekanan, serta pentingnya konsistensi. Sementara itu, pendidikan manajemen olahraga membuka ruang untuk memperdalam pengetahuan mengenai pengelolaan dan pengembangan prestasi olahraga secara akademis.
Prestasi Rifky menjadi contoh konkret bahwa atlet penyandang disabilitas dapat bersaing di tingkat internasional sekaligus melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, capaian tersebut bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan akan dukungan berkelanjutan, baik dalam pembinaan, fasilitas latihan, pendampingan akademik, maupun persiapan menuju kompetisi berikutnya.
Bagi lingkungan kampus, keberhasilan mahasiswa di panggung internasional juga menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga dan pendidikan dapat saling menguatkan. Atlet membutuhkan ruang untuk berkembang secara utuh, bukan hanya dinilai berdasarkan jumlah medali yang dibawa pulang.
Emas untuk Keluarga, Mimpi Menuju Los Angeles
Di balik empat medali yang diraihnya, ada cerita personal yang tak kalah kuat. Istri dan anak Rifky yang baru berusia sepuluh bulan tidak dapat mendampinginya langsung di Jepang. Kerinduan itu hanya bisa dijembatani melalui panggilan video di sela-sela kesibukan bertanding.
Ia mengakui, dukungan keluarga menjadi sumber semangat yang terus menguatkannya. Medali yang diraih di Nagoya pun ia persembahkan untuk orang-orang terdekat yang mendukung perjalanan kariernya.
Baca Juga: Papua Athletics Center Juara Umum Kejuaraan Atletik Jatim Open 2026
“Terutama ya istri dan anak saya, dan keluarga,” ujarnya.
Kehidupan sebagai suami dan ayah membawa tanggung jawab yang berbeda. Namun, Rifky berusaha menjadikan tanggung jawab tersebut sebagai kekuatan, bukan beban yang menghambat konsentrasinya di arena.
Kini, setelah menorehkan dua emas, dua perak, dan rekor Asia di Aichi-Nagoya, Rifky mengarahkan pandangan ke tantangan internasional berikutnya, termasuk Paralimpiade Los Angeles 2028. Jalan menuju panggung tertinggi itu masih membutuhkan persiapan panjang, konsistensi latihan, dan peningkatan performa.
Ia menyampaikan pesan sederhana kepada atlet lain yang sedang berjuang maupun mereka yang masih menjalani pembinaan di Tanah Air.
“Latihan sekeras mungkin. Jangan lupa berdoa. Usaha dan doa, nanti hasil Allah yang menentukan,” pungkasnya.
Empat medali dari Nagoya menegaskan bahwa keberhasilan Rifky bukan semata-mata tentang mengalahkan lawan. Ia juga sedang membangun perjalanan panjang sebagai atlet nasional dan mahasiswa pascasarjana—dua tanggung jawab yang menuntut disiplin, ketekunan, serta keberanian untuk terus melampaui batas kemampuan diri.(Mochammad Fasichullisan)
Editor : D1N