Etika Digital Pendidikan di Tengah Disrupsi Teknologi

Oleh: At Thoriq Bintang Praja dan Moh. Abd. Latib
Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura
Pendidikan Informatika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, aktivitas akademik, sosial, dan profesional di dunia pendidikan kian bergeser ke ruang siber. Tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan lagi semata persoalan akses teknologi, melainkan bagaimana etika dan tanggung jawab dijalankan di ruang digital yang nyaris tanpa batas ruang dan waktu.

Baca Juga: Aries Agung Paewai Pimpin Sertijab Kepala SMAN 5 Taruna Brawijaya, Perkuat Pendidikan Berkarakter

Mahasiswa sebagai aktor utama pendidikan tinggi kini tidak hanya dituntut cakap secara akademik dan digital, tetapi juga memiliki kesadaran etika dalam berinteraksi di dunia maya. Tanpa tanggung jawab digital yang kuat, ruang siber pendidikan berpotensi berubah menjadi arena ketidakjujuran akademik, plagiarisme, perundungan siber, hingga pelecehan daring. Jika hal ini dibiarkan, nilai-nilai dasar pendidikan justru akan tergerus oleh kemajuan teknologi itu sendiri.

Era disrupsi digital ditandai dengan perubahan cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi. Komunikasi tatap muka semakin banyak digantikan oleh interaksi digital yang serba cepat dan instan. Perubahan ini membawa konsekuensi pada pergeseran nilai sosial dan etika. Norma kesopanan, empati, dan tanggung jawab sering kali terabaikan karena ruang digital memberi jarak emosional dan rasa anonimitas bagi penggunanya.

Kemudahan mengakses informasi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Banjir konten digital membuat masyarakat, terutama generasi muda, dihadapkan pada kesulitan memilah informasi yang benar dan bermanfaat. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konten tidak pantas, hingga praktik plagiarisme menjadi fenomena yang semakin sulit dikendalikan. Situasi ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kematangan moral penggunanya.

Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi. Sejak usia dini, gawai dan media sosial telah menjadi bagian dari keseharian. Tanpa pendampingan dan pembekalan nilai yang memadai, kedekatan ini berpotensi membentuk karakter yang individualistis, minim empati, dan kurang peduli terhadap etika sosial. Di sinilah pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kecakapan digital dan kedewasaan moral.

Pada hakikatnya, pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan kognitif dan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Pendidikan moral dan etika menjadi landasan penting dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, serta sikap saling menghargai. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal utama peserta didik dalam menghadapi kompleksitas kehidupan di era digital.

Dalam konteks disrupsi digital, pendidikan moral dan etika dituntut untuk bertransformasi agar tetap relevan. Pendekatan pembelajaran konvensional perlu dipadukan dengan metode yang kontekstual dan berbasis teknologi. Integrasi nilai moral dalam pembelajaran digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan untuk menanamkan karakter positif secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Baca Juga: Kadindik Jatim Siapkan Langkah Antisipatif Cegah Paparan Ideologi Kekerasan pada Peserta Didik

Namun, pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Peran keluarga dan masyarakat tetap krusial dalam membentuk karakter generasi muda. Pendidikan moral yang konsisten antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat akan memperkuat internalisasi nilai pada diri peserta didik. Tanpa sinergi tersebut, pendidikan karakter akan mudah melemah ketika berhadapan dengan kuatnya pengaruh dunia digital.

Disrupsi digital juga membawa dampak langsung pada perilaku generasi muda. Budaya instan dan pencarian validasi melalui “like” dan “share” kerap mendorong individu mengabaikan aspek etika demi popularitas. Media sosial sering kali menjadi ruang ekspresi tanpa kontrol nilai, yang pada akhirnya memengaruhi cara berpikir dan bersikap dalam kehidupan nyata.

Dalam situasi ini, pendidik memegang peran penting sebagai teladan. Pendidikan harus menjadi ruang pembinaan nilai, bukan sekadar transfer pengetahuan. Keteladanan dalam bersikap, berkomunikasi, dan memanfaatkan teknologi akan memberikan contoh nyata bagi peserta didik. Diskusi tentang etika digital, literasi media, dan tanggung jawab sosial perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Tantangan implementasi pendidikan moral dan etika di era digital memang tidak ringan. Masih ada anggapan bahwa pendidikan moral bersifat teoritis dan kurang relevan dengan tuntutan zaman. Di sisi lain, tidak semua pendidik memiliki kesiapan dan kompetensi digital yang memadai untuk mengintegrasikan nilai moral dalam pembelajaran berbasis teknologi. Pengaruh lingkungan sosial dan arus informasi di luar sekolah juga kerap berjalan berlawanan dengan nilai yang diajarkan.

Baca Juga: Dari Dapur Sekolah ke Dunia Industri, Kadindik Jatim Resmikan Pawon Satu & Cafe di SMKN 1 Buduran

Karena itu, diperlukan pendekatan yang adaptif dan realistis. Literasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan pendidikan moral dan etika. Peserta didik perlu dibekali kesadaran tentang etika berinternet, tanggung jawab digital, serta dampak sosial dari setiap perilaku daring yang mereka lakukan.

Pada akhirnya, disrupsi digital adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, arah dan dampaknya sangat ditentukan oleh kualitas moral penggunanya. Pendidikan moral dan etika menjadi kunci agar kemajuan teknologi tidak justru melahirkan krisis nilai dalam dunia pendidikan.

Jika pendidikan hanya berfokus pada penguasaan teknologi dan capaian akademik, maka teknologi berpotensi menjadi sumber persoalan baru. Sebaliknya, dengan penguatan pendidikan moral dan etika, teknologi dapat menjadi sarana kemajuan yang beradab. Inilah tantangan sekaligus tanggung jawab dunia pendidikan di era disrupsi digital: membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga beretika, berkarakter, dan bertanggung jawab.

Editor : Redaktur

Opini   

Etika Digital Pendidikan di Tengah Disrupsi Teknologi

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, aktivitas akademik, sosial, dan profesional di dunia pendidikan kian bergeser ke ruang siber. Tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan lagi semata persoalan akses teknologi, melainkan bagaimana etika…

Opini   

Tantangan Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Perkembangan teknologi saat ini bergerak sangat cepat, bahkan mulai mendekati apa yang disebut sebagai singularitas teknologi. Sebuah kondisi ketika kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI),…