PROBOLINGGO, HNN – Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dan mengembangkan kreativitas generasi muda. Hal tersebut terlihat dari beragam inovasi yang dihasilkan peserta didik melalui program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di wilayah Probolinggo.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melihat langsung hasil pengembangan program tersebut saat mengunjungi pameran produk SIKAP di SMKN 4 Kota Probolinggo, Selasa (3/11/2026). Dalam kesempatan itu, Khofifah mengapresiasi berbagai hasil budidaya dan olahan pangan yang dikembangkan siswa dari sejumlah satuan pendidikan.
Baca Juga: Khofifah Buka 4.807 Lowongan Kerja di Job Fair Inklusif 2026
Beragam produk ditampilkan dalam pameran tersebut. Mulai dari hasil pertanian dan hortikultura hingga makanan serta minuman olahan. Kreativitas siswa terlihat dari kemampuan mengolah potensi yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk dengan nilai tambah.
Khofifah menilai keterlibatan sekolah dalam penguatan ketahanan pangan perlu terus diperluas. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat dimulai dari lingkungan pendidikan dengan memanfaatkan berbagai media tanam yang tersedia, termasuk bagi sekolah yang tidak mempunyai lahan pertanian luas.
"Jadi kalau tidak ada yang di atas lahan langsung, maka bisa di polibag," ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, program SIKAP dikembangkan untuk melibatkan seluruh jenjang pendidikan menengah di Jawa Timur, baik SMA, SMK maupun SLB, negeri dan swasta. Melalui program ini, sekolah diharapkan mampu mengambil peran dalam mendukung ketahanan pangan melalui kegiatan yang aplikatif dan berkelanjutan.
"Jadi melalui SIKAP, kita ingin bagaimana sekolah-sekolah itu menjadi bagian pembelajaran dan penguatan terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia dimulai dari sekolah-sekolah di Jawa Timur," ungkapnya.
Bagi Khofifah, penguatan ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari kegiatan berskala besar. Lingkungan sekolah dapat menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan produktif, mengenalkan proses budidaya tanaman, serta menumbuhkan kepedulian peserta didik terhadap ketersediaan pangan.
Selain menghasilkan komoditas pertanian, program tersebut juga mendorong siswa mengembangkan kreativitas melalui pengolahan hasil panen. Bahan pangan yang tersedia dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman sehingga mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan ketika dijual dalam bentuk mentah.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, pengembangan program SIKAP sejalan dengan upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman praktik agar pengetahuan yang diperoleh di sekolah dapat diterapkan secara langsung.
Baca Juga: Aries Agung Paewai Hadiri Peresmian SMPM 15 dan Sport Center PCM Kenjeran

Menurut Aries, pembelajaran berbasis praktik juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal potensi sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal dalam membangun keterampilan, kemandirian, serta kemampuan berinovasi.
Ia juga mendorong agar hasil pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan produksi semata. Kreativitas siswa perlu diarahkan hingga mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki kemasan menarik, dan berpeluang dikembangkan menjadi usaha produktif.
Pameran SIKAP di Probolinggo menghadirkan sembilan stan dengan 32 jenis produk unggulan. Sejumlah produk yang dipamerkan antara lain kentang, tomat, wortel, minuman bunga telang, ikan marinasi, dimsum, hingga puding.
Keberagaman produk tersebut menunjukkan bahwa program ketahanan pangan di sekolah dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan. Tidak hanya bercocok tanam, tetapi juga mencakup pengolahan bahan pangan menjadi produk siap konsumsi.
Baca Juga: Molornya Renovasi Kolam Kertajaya Ancam Dominasi Selam Jatim di PON 2028
Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan kepada siswa mengenai tahapan pengembangan produk. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, pengemasan hingga peluang pemasaran. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga mulai mengenal konsep kewirausahaan.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Khofifah juga melakukan penanaman 100 pohon bersama guru dan siswa. Bibit yang ditanam meliputi mangga, alpukat, dan kelengkeng. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lingkungan sekolah agar lebih produktif dan memiliki manfaat jangka panjang.
Aries berharap, pengembangan program SIKAP dapat terus mendorong satuan pendidikan untuk melahirkan inovasi yang sesuai dengan potensi masing-masing daerah. Dukungan sekolah, guru, dan lingkungan masyarakat menjadi faktor penting agar kegiatan tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Melalui program ini, sekolah di Jawa Timur diharapkan tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang terampil, mandiri, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan.
Hasil karya siswa Probolinggo menjadi salah satu contoh bahwa potensi lokal dapat dikembangkan melalui pendidikan. Jika dikelola secara konsisten, kegiatan tersebut bukan hanya memberikan pengalaman belajar, tetapi juga membuka peluang lahirnya produk unggulan daerah yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.
Editor : D1N