Tantangan Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Reporter : M4S

 

 

Baca juga: Aries Agung Paewai Pimpin Sertijab Kepala SMAN 5 Taruna Brawijaya, Perkuat Pendidikan Berkarakter

Oleh: Muzaki dan Abd. Bazid Romadhon
Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura
Pendidikan Informatika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Perkembangan teknologi saat ini bergerak sangat cepat, bahkan mulai mendekati apa yang disebut sebagai singularitas teknologi. Sebuah kondisi ketika kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), melampaui kemampuan manusia untuk beradaptasi secara fisik dan mental. Pada titik ini, teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan aktor penting yang memengaruhi berbagai keputusan dalam kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga relasi sosial.

Batas antara dunia nyata dan dunia digital semakin kabur. Banyak aspek kehidupan kini dibentuk oleh algoritma, data, dan rekomendasi mesin. Keputusan yang dulu sepenuhnya berada di tangan manusia, kini sebagian diserahkan kepada sistem digital. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: di mana posisi manusia di tengah dominasi teknologi yang semakin canggih?

Selama ini, manusia dianggap unggul karena kemampuan berpikir dan bernalar. Namun, kehadiran AI yang mampu belajar mandiri, menganalisis data dalam jumlah besar, dan mengambil keputusan dengan sangat cepat menantang pandangan tersebut. Dalam konteks ini, keunggulan manusia tidak lagi cukup diukur dari kecerdasan intelektual semata. Nilai utama manusia justru terletak pada kesadaran, empati, kebebasan memilih, serta tanggung jawab moral—hal-hal yang tidak dimiliki oleh mesin.

Karena itu, tantangan era teknologi tidak dapat dijawab hanya dengan meningkatkan keterampilan teknis. Pendidikan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat lunak atau menguasai bahasa pemrograman. Pendidikan harus berperan membentuk karakter, cara berpikir kritis, dan kesadaran etis agar peserta didik mampu memahami dampak teknologi terhadap diri sendiri dan masyarakat.

Dalam konteks ini, peserta didik ideal bukan hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan individu yang mampu menentukan arah perkembangan teknologi itu sendiri. Mereka perlu dipersiapkan menjadi “arsitek peradaban”, yakni manusia yang memahami cara kerja teknologi sekaligus menyadari dampak sosial, budaya, dan kemanusiaan dari setiap keputusan berbasis teknologi.

Baca juga: Kadindik Jatim Siapkan Langkah Antisipatif Cegah Paparan Ideologi Kekerasan pada Peserta Didik

Fondasi dari peran tersebut adalah etika tekno-humanis. Sebuah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat dalam pengembangan dan penggunaan teknologi. Etika tekno-humanis tidak menolak kemajuan teknologi, tetapi menegaskan bahwa setiap inovasi harus disertai pertimbangan moral.

Di dunia pendidikan, tantangan ini semakin nyata. Dorongan untuk serba cepat dan efisien sering kali membuat proses belajar dipahami sekadar sebagai cara memperoleh jawaban tercepat, bukan sebagai proses membangun pemahaman dan sikap. Akibatnya, kebiasaan berpikir mendalam dan reflektif perlahan tergeser oleh budaya instan.

Masalah lain yang mengemuka adalah kecenderungan delegasi moral kepada algoritma. Ketergantungan berlebihan pada sistem digital dapat melemahkan kemampuan berpikir moral, karena proses mempertimbangkan nilai dan bertanggung jawab atas keputusan menjadi jarang dilakukan.

Empati pun mengalami erosi di ruang digital. Interaksi yang berlangsung melalui layar membuat relasi antarmanusia menjadi lebih dangkal. Fenomena perundungan digital, ujaran kebencian, dan sikap acuh terhadap ketidakadilan menjadi cerminan dari tantangan moral di era teknologi.

Baca juga: Dari Dapur Sekolah ke Dunia Industri, Kadindik Jatim Resmikan Pawon Satu & Cafe di SMKN 1 Buduran

Pendidikan, karena itu, harus kembali menempatkan nilai sebagai inti. Guru dan dosen tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membimbing peserta didik untuk memahami dampak sosial dan etika dari teknologi. Diskusi etika digital, pembelajaran berbasis proyek, dan refleksi kritis menjadi sarana penting untuk menanamkan etika tekno-humanis.

Pada akhirnya, tantangan utama di era mendekati singularitas teknologi bukan sekadar menciptakan mesin yang semakin cerdas, tetapi memastikan manusia tidak kehilangan cara berpikir dan bertindak secara manusiawi. Pendidikan moral dan etika harus menjadi inti dari pendidikan, bukan sekadar pelengkap.

Menjadi arsitek peradaban berarti menempatkan nilai kemanusiaan di atas efisiensi semata. Dengan pendidikan yang menekankan etika dan tanggung jawab, perkembangan teknologi diharapkan tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga masa depan tidak hanya canggih, tetapi juga adil dan bermakna.

Editor : Redaktur

PERISTIWA
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru