Di Era Digital, Pendidikan Karakter Jadi Taruhan Masa Depan Bangsa

Reporter : M4S

Oleh: Ismatillah Agustin dan Ismael
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Pendidikan Informatika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan


Perkembangan teknologi digital dan globalisasi pendidikan telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan kita, termasuk di dunia pendidikan. Akses informasi kini semakin mudah, cepat, dan nyaris tanpa batas. Cukup lewat gawai di tangan, siapa pun bisa belajar apa saja. Namun, di balik kemudahan itu, ada persoalan penting yang sering luput dari perhatian, yakni soal karakter dan moral generasi muda.

Baca juga: Aries Agung Paewai Pimpin Sertijab Kepala SMAN 5 Taruna Brawijaya, Perkuat Pendidikan Berkarakter

Belakangan ini, berbagai persoalan etika semakin sering muncul ke permukaan. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, perdebatan tanpa empati, hingga perilaku yang jauh dari nilai sopan santun. Tidak sedikit anak muda yang pintar secara akademik, tetapi gagap dalam bersikap dan berinteraksi. Kondisi ini menjadi tanda bahwa pendidikan kita masih terlalu fokus pada nilai dan prestasi, sementara pembentukan karakter belum mendapat porsi yang seimbang.

Pendidikan sering kali dimaknai sebatas proses mengejar angka, peringkat, dan gelar. Padahal, kecerdasan intelektual tanpa diiringi karakter dan moral yang kuat justru bisa berbahaya. Media sosial menjadi contoh paling nyata. Ruang digital yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk belajar dan berbagi kebaikan, justru kerap berubah menjadi ruang bebas etika, tempat emosi diluapkan tanpa tanggung jawab.

Di sinilah pendidikan karakter menjadi sangat penting. Pendidikan karakter bukan sekadar pelajaran tambahan atau slogan indah dalam kurikulum. Pendidikan karakter adalah proses membentuk kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai sederhana seperti jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, dan saling menghormati seharusnya menjadi bagian dari keseharian peserta didik, bukan hanya hafalan di ruang kelas.

Tantangan pendidikan karakter di era globalisasi memang tidak mudah. Teknologi dan media sosial berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kita mengontrol dampaknya. Jika tidak diimbangi dengan pendidikan moral yang kuat, teknologi justru dapat memperkuat sikap individualistis dan mengikis rasa kebersamaan. Anak-anak dan remaja tumbuh di dunia digital yang minim keteladanan, sehingga mudah meniru perilaku yang keliru.

Baca juga: Kadindik Jatim Siapkan Langkah Antisipatif Cegah Paparan Ideologi Kekerasan pada Peserta Didik

Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh berhenti di tataran wacana. Nilai moral dan etika harus benar-benar hadir dalam proses belajar di sekolah. Semua mata pelajaran sejatinya bisa menjadi sarana pembentukan karakter, tergantung bagaimana cara mengajarkannya. Peran guru sangat penting di sini. Apa yang dilakukan guru sehari-hari sering kali jauh lebih berpengaruh daripada sekadar nasihat atau teori yang disampaikan di kelas.

Namun, sekolah bukan satu-satunya tempat pembentukan karakter. Keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki peran yang sama besar. Karakter pertama kali dibentuk di rumah, diperkuat di sekolah, dan diuji di masyarakat. Jika nilai yang diajarkan di sekolah tidak sejalan dengan apa yang terjadi di rumah atau lingkungan sosial, maka pendidikan karakter akan berjalan pincang.

Di era digital, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan juga perlu diarahkan dengan bijak. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi atau perangkat. Yang jauh lebih penting adalah membekali peserta didik dengan kesadaran etis dalam menggunakan teknologi. Mulai dari menyaring informasi, bersikap santun di media sosial, hingga menghargai perbedaan pendapat di ruang digital.

Baca juga: Dari Dapur Sekolah ke Dunia Industri, Kadindik Jatim Resmikan Pawon Satu & Cafe di SMKN 1 Buduran

Pendidikan karakter juga berperan penting dalam menjaga identitas bangsa. Arus budaya global datang begitu deras dan sulit dibendung. Tanpa karakter yang kuat, generasi muda mudah kehilangan jati diri dan nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan karakter menjadi pijakan agar kemajuan zaman tidak membuat kita tercerabut dari akar budaya dan nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, pendidikan karakter bukan pekerjaan singkat dan instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan komitmen bersama. Negara, sekolah, pendidik, keluarga, dan masyarakat harus berjalan searah agar pendidikan tidak kehilangan ruhnya.

Di era digital seperti sekarang, pendidikan karakter bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan prestasi akademik, tetapi oleh karakter, moral, dan etika generasi penerusnya. Jika karakter diabaikan, kemajuan bisa berubah menjadi masalah. Namun jika karakter diperkuat, kemajuan justru akan membawa Indonesia melangkah maju tanpa kehilangan jati dirinya.

Editor : Redaktur

PERISTIWA
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru