SURABAYA, HNN - Masa depan profesi guru tidak cukup disiapkan dari balik meja kuliah. Ia harus diuji di ruang kelas, berhadapan dengan murid, dibaca melalui data, lalu dievaluasi sebelum seorang calon pendidik benar-benar dipercaya memikul tanggung jawab di depan generasi berikutnya.
Gagasan itulah yang mengemuka ketika Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mempertemukan pemangku kebijakan pendidikan dan sekolah mitra dalam Workshop Pelaksanaan PPL Mandiri dan Penilaian Digital, Jumat–Sabtu (25–26/9/2026), di Hotel Wyndham Surabaya.
Baca Juga: UNESA Kenalkan Inovasi Olahan Labu Kuning kepada Siswa SMK Miftahul Ulum Lamongan
Pertemuan tersebut melibatkan 126 pemangku kebijakan dan 80 kepala sekolah dari 128 sekolah mitra, ditambah delapan SMK. Forum itu bukan sekadar agenda teknis akademik. Di dalamnya terselip persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana perguruan tinggi pencetak guru membaca perubahan kebutuhan sekolah sekaligus memastikan calon pendidik tidak hanya menguasai teori, tetapi siap memasuki kenyataan kelas.
Kepala Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) UNESA, Dr. Fatkur Rohman K., M.Pd., memaparkan kebutuhan tenaga pendidik di Surabaya dan Jawa Timur yang, berdasarkan data yang disampaikan dalam forum, mencapai lebih dari 3.000 guru. Sementara itu, kapasitas pemenuhan UNESA disebut baru sekitar 35 persen.
Angka tersebut menjadi latar penting bagi penguatan skema Pendidikan Profesi Guru (PPG) melalui PPL Mandiri dan penilaian digital. Dua instrumen itu diarahkan bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban akademik mahasiswa, melainkan mempererat hubungan kampus dan sekolah dalam proses pembentukan profesionalitas calon guru.
PPL Mandiri Mengubah Sekolah Menjadi Laboratorium Profesional
Rektor UNESA Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., menegaskan bahwa PPL Mandiri harus ditempatkan sebagai bagian substantif dari proses pembentukan kompetensi calon pendidik.
Mahasiswa PPG Calon Guru semester dua menjalani beban studi 20 SKS, dengan delapan SKS dialokasikan untuk PPL. Melalui skema tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pembelajaran, tetapi berhadapan langsung dengan karakter peserta didik, kultur sekolah, dinamika kelas, administrasi pendidikan, serta tuntutan profesional seorang guru.
“PPL Mandiri bukan sekadar kegiatan rutin akademik. Ia adalah laboratorium bagi para calon guru untuk mengasah kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.”
Pernyataan Nurhasan menempatkan sekolah pada posisi yang lebih strategis. Sekolah mitra bukan lagi sekadar lokasi praktik lapangan, sementara mahasiswa tidak berhenti sebagai peserta magang. Keduanya dipertemukan dalam ekosistem pembelajaran profesional yang memungkinkan kompetensi calon guru diuji melalui pengalaman nyata.
Di titik inilah PPL Mandiri memperoleh makna yang lebih luas: kampus memberikan fondasi keilmuan, sekolah menguji penerapannya, sedangkan pengalaman lapangan menjadi ruang untuk mengetahui apakah pengetahuan benar-benar berubah menjadi kompetensi.
Ketika Kualitas Calon Guru Mulai Dibaca Melalui Data
Jika PPL Mandiri merupakan ruang pengujian, penilaian digital menjadi instrumen untuk membaca proses tersebut secara lebih terukur.
BPPG UNESA mengembangkan mekanisme penilaian digital untuk memantau pelaksanaan PPL Mandiri di sekolah mitra. Data yang terkumpul diharapkan tidak berhenti sebagai arsip administrasi, tetapi menjadi bahan refleksi dan evaluasi terhadap proses pendidikan calon guru.
Nurhasan menyebut mekanisme tersebut memungkinkan BPPG UNESA mengetahui perkembangan dan dampak pelaksanaan PPL Mandiri secara real-time.
Namun, substansi digitalisasi itu bukan sekadar mengganti kertas dengan layar.
Yang lebih penting adalah membangun siklus evaluasi: mahasiswa mengajar, sekolah melakukan penilaian, data dihimpun, hasil dianalisis, kemudian temuan tersebut digunakan sebagai bahan perbaikan proses pembentukan calon guru.
Dengan pola seperti itu, teknologi ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat akuntabilitas dan kualitas, bukan sekadar simbol modernisasi.
Penilaian juga dituntut tetap mengukur kompetensi secara adil dan bermakna serta memberikan umpan balik bagi pengembangan profesional calon pendidik.
Dari PPL Mandiri ke Surabaya Mengajar
Namun, langkah UNESA tidak berhenti ketika PPL Mandiri selesai.
Fatkur Rohman menyampaikan bahwa setelah rangkaian PPL Mandiri pada 19–20 Oktober 2026, mahasiswa direncanakan tetap mengajar hingga Desember melalui program Surabaya Mengajar.
Skema tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk melanjutkan aktivitas mengajar di sekolah mitra apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan, termasuk berdasarkan penilaian kepala sekolah.
“Setelah PPL selesai, insyaallah akan berlanjut mahasiswa tetap mengajar di sekolah tersebut sampai Desember melalui program Surabaya Mengajar.”
Rencana tersebut memperpanjang pengalaman lapangan calon guru. Jika PPL Mandiri memberikan kesempatan untuk menguji kompetensi dalam periode tertentu, keberlanjutan mengajar memberi ruang lebih panjang bagi mahasiswa untuk memahami ritme sekolah dan membangun pengalaman profesional.
Fatkur juga menjelaskan bahwa apabila mahasiswa memenuhi persyaratan akademik dan nonakademik, kegiatan mengajar dapat berlanjut setelah Januari hingga terselenggaranya tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Namun, peluang tersebut tetap berada dalam koridor persyaratan, mekanisme, dan ketentuan seleksi PPPK yang berlaku. Dengan demikian, Surabaya Mengajar tidak serta-merta dapat diposisikan sebagai jalur otomatis menuju status ASN.
Yang lebih jelas, skema itu memperpanjang jembatan antara pendidikan profesi, pengalaman mengajar, dan kebutuhan sekolah.
Membaca Perubahan Besar PPG 2027
Di balik penguatan PPL Mandiri, UNESA juga sedang membaca perubahan lanskap pendidikan profesi guru yang akan memasuki fase baru mulai 2027.
Nurhasan menyampaikan bahwa UNESA akan semakin memusatkan perhatian pada PPG Calon Guru. Sosialisasi akan diperkuat di berbagai fakultas untuk menjangkau mahasiswa S-1 yang berminat memasuki profesi pendidik.
“Mulai tahun 2027 fokus pada PPG Calon Guru maka saya adakan di fakultas masing-masing dengan tujuan edukasi dan promosi kepada mahasiswa S-1 bahwa yang berminat menjadi guru sekarang harus mengikuti PPG Calon Guru dua semester.”
Perubahan tersebut membawa konsekuensi strategis bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan sarjana. Mereka harus memastikan calon guru memperoleh pembentukan profesi yang relevan dengan tuntutan sekolah dan perkembangan kebijakan pendidikan.
Baca Juga: Kementan Dukung FKP UNESA Kembangkan Kedelai, 56 Hektare Lahan Disiapkan
Bagi UNESA, fase tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat perannya sebagai LPTK yang menghubungkan pendidikan tinggi, sekolah, teknologi, dan kebutuhan tenaga pendidik.
Bukan Hanya Guru, UNESA Membaca Peta Kebutuhan Tenaga Terampil
Agenda transformasi itu juga bergerak ke wilayah yang lebih luas.
UNESA menyiapkan pengajuan lima bidang studi, yakni Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan, Teknik Konstruksi dan Perumahan, Teknik Perawatan Gedung, Animasi, dan Antropologi.
Rencana tersebut memperlihatkan bahwa respons perguruan tinggi terhadap kebutuhan masyarakat tidak hanya berpusat pada profesi guru. Ada kebutuhan tenaga terampil dan kompetensi baru yang juga harus dibaca sejak sekarang.
Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat memperoleh gelar. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia kerja.
Di sinilah gagasan “Rumah Para Juara” memperoleh dimensi yang lebih luas. Kejuaraan tidak hanya diukur melalui podium, tetapi juga melalui kemampuan sebuah institusi menyiapkan manusia yang kompeten, adaptif, dan relevan dengan perubahan zaman.
Dari Wyndham, Sebuah Pesan untuk Ruang Kelas
Pertemuan dua hari itu akhirnya ditutup dengan pantun.
Nurhasan menyampaikan:
Manuk emprit mencari makan,
Di rerumputan taman Ciputra.
Mari bersama bergandeng tangan,
Perkuat sinergi UNESA dan sekolah mitra.
Kemudian:
Manuk emprit terbang bersama,
Berputar-putar di Tugu Pahlawan.
Baca Juga: Armuji Ajak Mahasiswa UNESA Jadikan Nasionalisme sebagai Sikap dan Tindakan Nyata
Mari berkomitmen dan bekerja sama,
Mewujudkan guru masa depan harapan bangsa.
Fatkur Rohman menutupnya dengan bait:
Manuk prenjak mencari cinta,
Mondar-mandir di Danau UNESA.
Mari berikrar janji bersama,
Majukan sekolah, wujudkan juara.
Pantun itu menjadi penutup yang ringan dari sebuah pembicaraan yang sesungguhnya berat.
Sebab di balik pertemuan tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih besar daripada pelaksanaan PPL: kebutuhan guru, kualitas calon pendidik, keberlanjutan pengalaman mengajar, transformasi digital, perubahan PPG, dan kemampuan perguruan tinggi membaca kebutuhan sekolah sebelum perubahan itu menjadi krisis.
UNESA memilih membaca perubahan tersebut dari hulu.
Mahasiswa dibekali di kampus. Kompetensinya diuji di sekolah. Prosesnya dipantau melalui penilaian digital. Pengalaman mengajarnya berpotensi diperpanjang melalui Surabaya Mengajar. Sementara perubahan PPG 2027 mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Itulah mengapa “UNESA Satu Langkah di Depan” bukan semata slogan.
Jika seluruh skema tersebut berjalan sesuai desain dan ketentuan yang berlaku, yang sedang dibangun UNESA bukan hanya sebuah program PPL, melainkan rantai pembentukan profesi: dari ruang kuliah menuju ruang kelas, dari pengalaman menuju evaluasi, dari data menuju perbaikan.
Sebab guru masa depan tidak lahir hanya ketika seseorang menerima ijazah.
Ia ditempa ketika berhadapan dengan murid, diuji ketika menghadapi persoalan kelas, dinilai melalui kompetensi, dan dibuktikan melalui kualitas pengabdian.
Dari lantai atas Wyndham Surabaya, UNESA sedang menyusun satu pesan penting: masa depan guru tidak boleh ditunggu. Ia harus dipersiapkan, diuji, diukur, dan dibangun mulai hari ini.(Mochammad Fasichullisan).
Editor : D1N