Jejak 1.517 Intelektual Muda Unesa Menuju Indonesia Emas 2045

SURABAYA, HNN - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menorehkan sejarah. Sebanyak 1.517 wisudawan dari jenjang sarjana terapan, sarjana, magister, hingga doktor resmi menuntaskan perjalanan akademiknya dalam Wisuda ke-122 yang digelar pada Sabtu, 26 September 2026. Momentum ini bukan sekadar seremonial pelepasan toga, melainkan sebuah peneguhan komitmen: bahwa hakikat pendidikan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik, melainkan pada sejauh mana ilmu mampu menjawab persoalan zaman.

Mengusung tema "Cetak Wisudawan Berintegritas dan Berdaya Saing, Meneguhkan Tridharma untuk Indonesia Emas 2045", Unesa menempatkan integritas dan daya saing sebagai bekal utama para lulusan dalam mengarungi ruang kehidupan yang lebih luas. Ketua Pelaksana Wisuda ke-122, Riana Suprapto, S.Kom., menegaskan bahwa gelar akademik yang diraih harus dilanjutkan dengan kemampuan mengamalkan ilmu, mengembangkan kompetensi, serta memberikan manfaat melalui bidang yang ditekuni. "Integritas menjadi bagian penting dari bekal tersebut. Lulusan tidak cukup hanya memiliki capaian akademik, tetapi juga perlu mampu menjaga nilai yang diperoleh selama menjalani pendidikan," ujarnya.

Baca Juga: Armuji Ajak Mahasiswa UNESA Jadikan Nasionalisme sebagai Sikap dan Tindakan Nyata

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang I Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Martadi, M.Sn., menyoroti bahwa kesuksesan lulusan tidak semata ditentukan oleh indeks prestasi. Menurutnya, kemampuan seperti problem solving, kerja tim, dan integritas justru menjadi faktor utama yang dicari oleh dunia kerja. "Kesuksesan lulusan tidak hanya ditentukan oleh indeks prestasi. Kemampuan seperti problem solving, kerja tim, dan integritas justru menjadi faktor utama yang dicari oleh dunia kerja," tegasnya.

Dalam konteks tersebut, Unesa meneguhkan budaya doing by research sebagai paradigma dalam menjalani kehidupan. Tradisi riset membentuk cara berpikir yang tidak mudah menerima informasi secara mentah, tetapi senantiasa menguji, menganalisis, dan menemukan perspektif baru. Nilai inilah yang perlu terus dibawa oleh para alumni ketika mereka hadir di berbagai sektor kehidupan, baik sebagai profesional, pemimpin, wirausahawan, pendidik, maupun penggerak masyarakat.

Jejak Para Adiwisudawan: Dari Keterbatasan Menuju Keunggulan

Di balik gemerlapnya prosesi wisuda, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang membentuk karakter para lulusan terbaik. Dr. Tuwuh Handayani, M.Pd., Kepala SD Negeri Ngambon I Bojonegoro yang meraih IPK sempurna 4,00 dari Program S3 Manajemen Pendidikan, membuktikan bahwa dedikasi puluhan tahun di dunia pendidikan tidak pernah mengenal kata henti. "Gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan, tapi justru menjadi bekal memberikan kontribusi lebih besar bagi orang lain," tuturnya.

Kisah inspiratif juga datang dari Firda Emilia, M.Pd., Wisudawan Terbaik Program Studi S2 Pendidikan Dasar dengan IPK 4,00. Di balik kesuksesannya mengembangkan e-book berbasis Etno-STEAM untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, ia harus melewati jalan terjal kehidupan. Sejak kelas 1 SD, ia telah kehilangan sosok ayah dan dibesarkan oleh seorang ibu rumah tangga. "Alhamdulillah, dari uang tabungan itu saya dan teman-teman bisa membiayai penerbitan buku," kenangnya.

Baca Juga: Dobrak Sekat Eksklusivitas, Unesa Bekali Guru SMP Magetan Senjata ‘Modul Inklusi’

Sementara itu, Iftitah Rahma Safira, Wisudawan Terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan dengan IPK 3,95, menghadirkan inovasi game edukatif berbasis web "Nina's Smart Choice" untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV. Baginya, menjadi pendidik bukan sekadar pekerjaan, melainkan proses seumur hidup. "Semua anak di wilayah mana pun punya semangat belajar yang tinggi," ujarnya penuh keyakinan.

Dari Fakultas Hukum, Sholiha menorehkan prestasi dengan analisis yuridisnya tentang prinsip Business Judgment Rule dalam putusan korupsi pejabat BUMN. Perempuan introvert asal Pasuruan itu membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. "Etos kerja dan ketangguhan ibu menjadi motor penggerak bagi saya untuk terus berprestasi," tandasnya.

Alumni: Rumah Baru, Berbagi Inspirasi

Baca Juga: Elpanta Tarigan, Atlet Nasional Tunanetra yang Diangkat Jadi Keluarga Abadi Unesa

Direktur Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Dr. Muhamad Sholeh, M.Pd., menegaskan bahwa hubungan antara lulusan dan almamater tidak berakhir pada hari wisuda. Melalui Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unesa, hubungan antarlulusan dikembangkan menjadi jaringan informasi pekerjaan, bimbingan karier, seminar, serta berbagai bentuk kolaborasi dengan dunia usaha dan industri. "Antaralumni saling terhubung, berbagi cerita, dan memberi penguatan. Dari sinilah muncul rasa kebersamaan yang turut memperkuat posisi Unesa sebagai perguruan tinggi besar dan dipercaya masyarakat," tuturnya.

Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, IKA Unesa meluncurkan Kartu IKA Unesa dan mobile app yang berfungsi sebagai e-money, tap cash, dan akses diskon di berbagai merchant. Inisiatif ini menjadi simbol bahwa almamater terus hadir sebagai rumah baru yang berbagi inspirasi bagi para alumninya.

Di balik angka 1.517 wisudawan, terdapat 1.517 cerita tentang perjuangan, ketekunan, dan keberanian bermimpi. Mereka adalah wajah baru Indonesia Emas 2045 — generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berdaya saing. Sebagaimana pesan yang tertuang dalam jurnal wisuda: "Teruslah belajar, teruslah bertanya, dan teruslah menciptakan karya yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan dunia."(Mochammad Fasichullisan).

Editor : D1N