Dua Mahasiswa UNESA Bawa Misi Merah Putih di Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Reporter : D1N

SURABAYA, HNN - Dari Ahmedabad, Indonesia membawa pulang lebih dari sekadar trofi. Ada sejarah yang ikut diterbangkan ke Jepang—sejarah ketika bola voli putra Merah Putih untuk pertama kalinya menaklukkan AVC Men’s Volleyball Cup 2026.

Namun di Aichi-Nagoya, sejarah itu tidak otomatis menjadi medali.

Baca juga: Kementan Dukung FKP UNESA Kembangkan Kedelai, 56 Hektare Lahan Disiapkan

Indonesia harus memulai kembali dari nol.

Juara Asia hanya menjadi bekal. Asian Games adalah ujian berikutnya.

PP PBVSI memasang sasaran menembus tiga besar sekaligus memburu medali perunggu. Target itu datang setelah perjalanan panjang skuad asuhan Reidel Toiran melalui kompetisi regional, AVC Men’s Cup, SEA V Cup, hingga rangkaian persiapan menuju Asian Games 2026.

Indonesia tergabung di Pool B bersama Thailand, Kirgizstan, dan Iran. Tiga pertandingan fase grup dijadwalkan berlangsung pada 27–29 September 2026.

Di balik misi besar tersebut, terdapat wajah UNESA yang ikut membawa denyut akademik dan regenerasi olahraga Indonesia ke panggung Asia.

Dua nama itu adalah Dio Zulfikri, mahasiswa Program Doktor S3 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNESA, serta Fauzan Nibras, mahasiswa S1 FIKK UNESA.

Satu berada di pusat kendali permainan.

Satu lainnya menjadi bagian dari generasi yang sedang ditempa untuk masa depan.

Keduanya datang dengan peran berbeda, tetapi membawa satu warna yang sama: Merah Putih.

Ahmedabad Menjadi Titik Balik

Di Ahmedabad, Indonesia menulis babak baru.

Menghadapi Korea Selatan pada final AVC Men’s Cup 2026, Indonesia menang telak 3-0 (34-32, 25-16, 25-23).

Kemenangan itu memastikan gelar AVC pertama Indonesia dalam sejarah keikutsertaannya di ajang tersebut.

Lebih dari itu, performa Indonesia juga melahirkan sejumlah penghargaan individual.

Boy Arnez Arabi dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) sekaligus masuk jajaran Best Outside Hitter.

Alfin Daniel Pratama meraih penghargaan Best Setter, sedangkan Hendra Kurniawan terpilih sebagai Best Middle Blocker.

Ketiganya juga masuk dalam Dream Team AVC Men’s Cup 2026.

Tiga penghargaan tersebut menggambarkan tiga elemen penting permainan Indonesia.

Boy menghadirkan daya ledak dari sisi luar. Alfin menjadi pengatur distribusi bola. Hendra memberikan ancaman sekaligus pertahanan di depan net.

Namun voli tidak pernah dimenangkan oleh satu pemain.

MVP membutuhkan setter. Setter membutuhkan penyerang. Penyerang membutuhkan receive. Dan semuanya membutuhkan satu sistem.

Di Aichi-Nagoya, sistem itulah yang akan diuji.

Dio Zulfikri: Mengatur Bola, Menjaga Kepala Tetap Dingin

Di tengah sistem tersebut berdiri Dio Zulfikri.

Setter sekaligus kapten tim Indonesia itu bukan hanya bertugas mengirim bola kepada penyerang. Ia harus membaca blok lawan, menentukan tempo, memilih opsi serangan, sekaligus menjaga komunikasi ketika pertandingan memasuki situasi paling kritis.

Dio juga membawa identitas sebagai mahasiswa S3 FIKK UNESA.

Di lapangan, ia berhadapan dengan blok dan servis lawan.

Di kampus, ia berhadapan dengan tuntutan akademik.

Dua dunia itu bertemu pada satu kebutuhan yang sama: kemampuan membaca situasi, mengambil keputusan, dan menjaga konsistensi.

Ketika skor berhenti di angka-angka kritis, ketika lawan mulai mengejar, ketika momentum berpindah hanya dalam beberapa reli, tangan Dio menjadi salah satu pusat kendali Indonesia.

Ia bukan sekadar pengumpan.

Ia adalah salah satu pengatur denyut permainan Garuda Voli.

Fauzan Nibras dan Jalan Panjang Regenerasi

Di sisi lain, ada Fauzan Nibras.

Mahasiswa S1 FIKK UNESA itu menjadi bagian dari skuad Indonesia di Asian Games 2026 pada posisi opposite, bersama Rama Fazza Fauzan.

Fauzan membawa cerita berbeda.

Jika pemain senior datang dengan pengalaman dan beban prestasi, Fauzan datang dengan energi generasi baru.

Asian Games bukan hanya tentang medali hari ini. Panggung sebesar ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi pemain yang kelak akan menjadi tulang punggung Indonesia.

Karena itu, kehadiran Fauzan memiliki makna lebih panjang dari sekadar daftar 12 pemain.

Ia adalah bagian dari proses regenerasi.

Dari kampus menuju arena internasional.

Dari pembinaan menuju pertandingan bertekanan tinggi.

Dari pemain muda menuju pengalaman yang suatu hari dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya.

Dari 18 Pemain Menjadi 12

Pengerucutan skuad menuju 12 pemain membuat setiap nama memiliki bobot yang semakin besar.

Tidak ada ruang untuk kehilangan konsentrasi.

Setter harus membaca pertandingan.

Outside hitter harus menyerang sekaligus membantu pertahanan.

Middle blocker dituntut cepat membaca arah bola.

Baca juga: Armuji Ajak Mahasiswa UNESA Jadikan Nasionalisme sebagai Sikap dan Tindakan Nyata

Opposite harus mampu menjadi pemecah kebuntuan.

Libero menjadi benteng pertama ketika serangan lawan datang bertubi-tubi.

Komposisi Indonesia di sektor setter diisi Alfin Daniel Pratama dan Dio Zulfikri.

Sektor middle blocker diisi Hendra Kurniawan dan Ahmad Gumilar, bersama satu middle blocker lainnya dalam komposisi tim.

Untuk outside hitter terdapat Boy Arnez Arabi, Sigit Ardian, Farhan Halim, dan Fahri Septian Putratama.

Posisi opposite ditempati Rama Fazza Fauzan dan Fauzan Nibras, sementara Fahreza Rakha Abhinaya menjadi libero.

Nama-nama itu bukan sekadar susunan roster.

Mereka adalah potongan-potongan yang harus bekerja sebagai satu kesatuan.

Sebab di Asian Games, penghargaan individual dari AVC tidak lagi menjadi jaminan.

Yang diuji adalah tim.

Thailand di Depan, Iran Menjadi Ujian Besar

Perjalanan Indonesia dimulai menghadapi Thailand pada 27 September.

Sehari kemudian, Kirgizstan menunggu.

Lalu pada 29 September, Indonesia harus menghadapi Iran.

Tiga laga dalam tiga hari menjadikan fase grup sebagai ujian awal terhadap konsistensi fisik, mental, taktik, dan kedalaman skuad.

Thailand bukan lawan asing bagi Indonesia.

Namun Asian Games membawa tekanan dan konteks berbeda.

Kirgizstan menjadi pertandingan yang harus dimanfaatkan untuk menjaga posisi Indonesia di grup.

Sementara Iran menghadirkan tantangan dari salah satu kekuatan penting bola voli Asia.

Di sinilah status juara AVC akan benar-benar diuji.

Indonesia boleh datang dengan trofi dari Ahmedabad.

Tetapi ketika peluit pertama berbunyi, lawan tidak akan memberikan satu poin pun karena status tersebut.

Juara Asia Harus Mengulang Pembuktian

Ada satu paradoks yang dibawa Indonesia ke Aichi-Nagoya.

Mereka datang sebagai juara Asia.

Baca juga: Dobrak Sekat Eksklusivitas, Unesa Bekali Guru SMP Magetan Senjata ‘Modul Inklusi’

Tetapi justru harus melupakan gelar itu ketika pertandingan dimulai.

Trofi Ahmedabad tidak bisa dipakai untuk memenangkan satu reli pun.

Medali Asian Games tidak diwariskan.

Semuanya harus diperjuangkan kembali.

Satu servis.

Satu receive.

Satu blok.

Satu set.

Satu pertandingan.

Lalu pertandingan berikutnya.

Di situlah kepemimpinan Dio Zulfikri dibutuhkan.

Di situlah distribusi Alfin Daniel harus menemukan sasaran.

Di situlah Hendra Kurniawan harus kembali menjadi tembok di depan net.

Dan di situlah Boy Arnez Arabi kembali dituntut menunjukkan kualitas yang membuatnya dinobatkan sebagai MVP AVC.

Sementara Fauzan Nibras membawa pesan yang tak kalah penting: Indonesia sedang menyiapkan generasi berikutnya.

Dari Ahmedabad menuju Aichi-Nagoya, perjalanan Garuda Voli bukan lagi sekadar tentang mempertahankan reputasi.

Ini tentang membuktikan bahwa gelar juara Asia bukan puncak perjalanan, melainkan pintu menuju tantangan yang lebih tinggi.

Target sudah diletakkan: tiga besar.

Kini semuanya berada di tangan 12 pemain.

Dua mahasiswa UNESA ikut berdiri di dalamnya—Dio sebagai salah satu pusat kendali permainan dan Fauzan sebagai bagian dari wajah muda masa depan.

Dari kampus, mereka menembus panggung Asia.

Dari Ahmedabad, mereka membawa sejarah.

Di Jepang, mereka membawa tugas yang baru.

Bukan sekadar datang sebagai juara AVC.

Tetapi membuktikan bahwa Garuda Voli Indonesia memang sedang terbang lebih tinggi.(Mochammad Fasichullisan)

Editor : D1N

PERISTIWA
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru