Armuji Ajak Mahasiswa UNESA Jadikan Nasionalisme sebagai Sikap dan Tindakan Nyata

Reporter : D1N

SURABAYA, HNN - Kampus tidak hanya membutuhkan ruang kuliah, tetapi juga menghadirkan pengalaman kepemimpinan nyata di hadapan mahasiswa. Dari ruang akademik itulah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menempatkan sosok-sosok pemimpin publik sebagai bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda.

Setelah menghadirkan berbagai pemimpin yang berkompeten, mulai dari bupati hingga Wakil Wali Kota Surabaya Ir. H. Armuji, M.H., UNESA kembali membuka ruang dialog kebangsaan bagi mahasiswa. Kali ini, Armuji hadir di tengah sekitar 500 mahasiswa Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) UNESA, Selasa, 18 Agustus 2026, untuk menyampaikan materi bertajuk “Nasionalisme dan Semangat Jiwa Kebangsaan dalam Kehidupan Mahasiswa.”

Baca juga: Elpanta Tarigan, Atlet Nasional Tunanetra yang Diangkat Jadi Keluarga Abadi Unesa

Kehadiran Armuji bukan sekadar menghadirkan figur pejabat publik di lingkungan kampus. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman kepemimpinan di lapangan dan dunia intelektual mahasiswa. Di hadapan generasi yang kelak mengisi berbagai lini kehidupan bangsa, Armuji mengajak mahasiswa memandang nasionalisme secara lebih substantif.

Nasionalisme, menurut pesan yang disampaikan dalam forum tersebut, tidak cukup berhenti pada simbol. Ia harus menjelma menjadi sikap, keputusan, tindakan, dan keberanian untuk memberikan kontribusi nyata.

Pesan itu menjadi penting di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks. Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan membaca persoalan masyarakat, kemampuan menghadapi perubahan, serta karakter yang kuat untuk menjaga persatuan.

Armuji mendorong mahasiswa agar tidak memandang kehidupan kebangsaan sebagai sesuatu yang jauh dari aktivitas akademik. Justru dari lingkungan kampus, kesadaran kebangsaan perlu ditanamkan melalui cara berpikir, kedisiplinan, integritas, kepedulian sosial, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Sekitar 500 mahasiswa FKP UNESA mengikuti pembekalan tersebut. Bagi mereka, perjumpaan dengan pemimpin publik menjadi kesempatan untuk melihat bahwa kepemimpinan bukan semata-mata persoalan jabatan, melainkan kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

DARI KAMPUS MENUJU PENGABDIAN
Langkah UNESA menghadirkan pemimpin publik sebagai pemateri juga memperlihatkan upaya memperluas ekosistem pembelajaran mahasiswa. Pengetahuan tidak hanya dibangun melalui buku, teori, dan ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman para tokoh yang bersentuhan langsung dengan dinamika pemerintahan dan masyarakat.

Dalam konteks FKP, pendekatan tersebut memiliki relevansi tersendiri. Ketahanan pangan bukan sekadar persoalan produksi, distribusi, dan konsumsi. Ia berkaitan erat dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat, kemandirian bangsa, serta masa depan Indonesia.

Karena itu, mahasiswa yang dipersiapkan menjadi bagian dari sektor ketahanan pangan membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan teknis. Mereka membutuhkan perspektif kebangsaan agar ilmu yang dimiliki tidak berhenti sebagai kompetensi individual, melainkan menjadi instrumen untuk menjawab persoalan publik.

Semangat tersebut sejalan dengan karakter mahasiswa FKP UNESA melalui nilai SIAP: Smart, Innovative, Adaptive, dan Professional.

Baca juga: UNESA Gelar ‘Karpet Merah’ dan Amunisi Sport Science untuk Porprov X 2027

Smart berarti memiliki kecerdasan untuk memahami persoalan. Innovative berarti berani menciptakan terobosan. Adaptive berarti mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan. Professional berarti bekerja dengan kompetensi, integritas, dan tanggung jawab.

Namun, keempat nilai itu membutuhkan satu fondasi yang lebih dalam: karakter kebangsaan.

Tanpa orientasi kebangsaan, kecerdasan dapat kehilangan arah. Tanpa kepedulian sosial, inovasi dapat kehilangan tujuan. Tanpa integritas, profesionalisme dapat kehilangan makna.

Di sinilah pembekalan tersebut menemukan relevansinya.

PEMIMPIN HADIR, MAHASISWA BERSIAP
UNESA tampaknya ingin menegaskan satu pesan: pendidikan kepemimpinan tidak harus menunggu mahasiswa lulus dari kampus.

Mereka perlu melihat, mendengar, dan berdialog langsung dengan para pemimpin yang menjalani kompleksitas pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Dari pengalaman itulah mahasiswa dapat belajar bahwa setiap keputusan publik selalu memiliki konsekuensi sosial dan setiap kepemimpinan menuntut keberanian untuk bertanggung jawab.

Baca juga: Peta Kekuatan Proliga 2026: Mengintip Peran UNESA sebagai "Dapur" Sport Science dan Talenta Nasional

Kehadiran Armuji di hadapan mahasiswa FKP UNESA pun menjadi bagian dari proses tersebut. Sosok pemimpin yang hadir langsung di ruang akademik membawa pesan bahwa kampus dan masyarakat tidak seharusnya berdiri sebagai dua dunia yang terpisah.

Kampus harus menjadi tempat gagasan bertemu realitas.

Sebab, pada akhirnya, bangsa tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang memiliki keberanian untuk menggunakan kecerdasannya bagi kepentingan masyarakat.

Dari ruang akademik FKP UNESA, pesan itu kembali ditegaskan: mahasiswa tidak dipersiapkan sekadar untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk mengambil peran.

SIAP menjadi generasi berkarakter. SIAP berpikir untuk bangsa. SIAP berinovasi untuk negeri. Dan SIAP mengambil bagian dalam masa depan Indonesia.(Mochammad Fasichullisan)

Editor : D1N

PERISTIWA
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru