Makna Insinyur dalam Perspektif Kebangsaan Menurut Ketua PII Riau Termuda

Reporter : KRI
Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Riau, Ir. Ulul Azmi, ST., http://M.Si., CST., IPM., ASEAN Eng,

PEKANBARU, HNN - Insinyur tidak boleh hanya pandai menghitung kekuatan beton dan baja, namun abai terhadap nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Pesan tajam itu disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Riau, Ir. Ulul Azmi, ST., http://M.Si., CST., IPM., ASEAN Eng, yang tercatat sebagai Ketua PW PII termuda se-Indonesia.

Menurut Ulul, makna insinyur dalam perspektif kebangsaan jauh lebih luas dari sekadar profesi teknis. Di pundak insinyur ada tanggung jawab moral untuk membangun bangsa, bukan sekadar membangun fisik.

"Menjadi insinyur bukan hanya soal mendirikan gedung, jalan, jembatan, atau menciptakan teknologi. Insinyur punya tanggung jawab moral untuk ikut membangun bangsa, menjaga keselamatan manusia, dan memberi manfaat bagi masyarakat," tegas Ulul, Rabu (28/10/2026).

Ia mengingatkan, jika pembangunan tidak memberikan manfaat bagi rakyat, maka pembangunan itu patut dipertanyakan.

"Insinyur itu membangun peradaban. Tidak hanya menghitung kekuatan struktur, tapi harus memahami kekuatan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan," ujarnya.

Dalam konteks itu, Ulul menegaskan Pancasila harus menjadi kompas etis bagi setiap insinyur.

Sila pertama, lanjutnya, menuntut insinyur bekerja jujur dan berintegritas. Sila kedua menempatkan keselamatan manusia, kesehatan publik, dan kelestarian lingkungan sebagai prioritas utama. Sila ketiga mendorong insinyur memperkuat persatuan melalui konektivitas dan pemerataan infrastruktur.

Sementara sila keempat menekankan pentingnya musyawarah, kajian ilmiah, dan kepentingan masyarakat luas dalam setiap keputusan pembangunan. Dan sila kelima, memastikan hasil pembangunan dan teknologi dirasakan secara adil oleh seluruh rakyat.

Ulul juga mengkritisi ketergantungan teknologi asing. Ia menyebut ketahanan nasional tidak cukup hanya dengan pertahanan dan keamanan, tetapi harus ditopang penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, energi, industri, dan infrastruktur.

"Indonesia memiliki sumber daya alam luar biasa. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton atau pengguna teknologi negara lain," katanya.

Bagi Ulul, menjadi insinyur adalah bentuk bela negara.

"Wujud bela negara seorang insinyur adalah membangun infrastruktur yang aman, menjaga keselamatan pekerja, dan menghadirkan teknologi yang bermanfaat," jelasnya.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan Indonesia hari ini tidak hanya butuh insinyur yang hebat secara teknis.

"Indonesia butuh insinyur yang punya integritas, jiwa nasionalisme, dan kepedulian terhadap masyarakat. Keinsinyuran adalah kompetensi, integritas adalah kehormatan, kebangsaan adalah landasan, dan pengabdian kepada Indonesia adalah tujuan," pungkasnya. (Lik)

Editor : D1N

PERISTIWA
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru