"Dialog Imajinatif Tiga Santri: Antara Khittah, Kekuasaan, dan Marwah Ulama"
Oleh: Abdul Rasyid
Baca juga: Menegakkan Panji NU di Muktamar ke-35: Belajar dari Hajar Aswad Memasuki Abad Kedua NU
Malam mulai tiba di sebuah serambi pesantren, lampu temaram menerangi rak kitab. Di kejauhan terdengar suara santri mengaji, tiga santri duduk melingkar sambil menikmati kopi dan sepiring singkong rebus. Mereka bertiga adalah; Santri Muassis, Pemburu Kursi, dan Penjaga Marwah. Dalam keheningan malam itu, mereka bertiga berdialog gayeng dengan dibumbui humor khas santri, terkait kasak kusuk menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang dan dinamikanya.
Amanah Untuk Khidmah
Santri Muassis:
“Mas, sebelum ngomong soal siapa jadi apa di Muktamar, saya mau bertanya sederhana: NU itu kendaraan menuju jabatan, atau amanah untuk khidmah?”
Pemburu Kursi:
“Lho, kok pertanyaannya berat sekali? Saya kira kendaraan ya kendaraan. Yang penting jangan mogok.”
Penjaga Marwah:
“Kalau kendaraan organisasi dipakai menuju khidmah, insyaallah selamat. Tapi kalau dipakai mengejar kursi, jangan-jangan sopirnya lebih sibuk mencari bensin daripada membaca peta.”
Ketiganya tertawa.
Santri Muassis:
“NU sejak awal tidak dibangun sebagai tangga untuk menaikkan seseorang setinggi-tingginya. Para Muassis mewariskan jam'iyyah dengan tradisi ilmu, adab, maslahat, dan khidmah. Karena itu Qonun Asasi bukan sekadar dokumen yang dibaca ketika pembukaan rapat.”
Pemburu Kursi:
“Ya, tapi zaman sudah berubah. Sekarang organisasi harus kuat. Kuat itu kan perlu sumber daya. Sumber daya perlu akses. Akses perlu jabatan.”
Penjaga Marwah:
“Benar. Tetapi jangan dibalik logikanya: jabatan adalah alat untuk khidmah, bukan khidmah dijadikan alat untuk memperoleh jabatan.”
Santri Muassis:
“Nah, itu dia!”
Ia menyeruput kopi.
“Dalam tradisi pesantren ada ungkapan al-'ilmu qoblal qouli wal 'amali (ilmu itu didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan). Artinya, sebelum sibuk mengatur orang lain, kita harus bertanya: apakah niat dan cara kita sudah sesuai dengan nilai yang kita perjuangkan?”
Pemburu Kursi:
“Kalau begitu, bagaimana dengan orang yang punya ambisi?”
Penjaga Marwah:
“Ambisi tidak selalu haram. Yang berbahaya adalah ketika ambisi kehilangan adab.”
Santri Muassis:
“Betul. Ingin memimpin boleh. Bahkan mungkin perlu. Tetapi jangan sampai berubah menjadi ingin dipimpin oleh kepentingan sendiri.”
Mereka kembali tertawa.
Kasak-Kusuk Jelang Mukktamar ke-35
Pemburu Kursi:
“Saya dengar menjelang Muktamar ini banyak sekali pertemuan. Ada yang sowan ulama, ada yang mengumpulkan dukungan, ada yang rajin silaturahim. Bukankah itu bagian dari demokrasi organisasi?”
Santri Muassis:
“Silaturahim itu ibadah. Tetapi kalau setiap sowan dihitung berdasarkan jumlah suara, itu sudah masuk kategori silaturahim dengan kalkulator.”
Penjaga Marwah:
“Ha-ha! Sowan membawa kitab, pulangnya membawa spreadsheet.”
Pemburu Kursi:
“Jangan sinis begitu. Politik organisasi juga membutuhkan strategi.”
Penjaga Marwah:
“Strategi boleh. Manipulasi jangan. Kompetisi boleh. Memecah persaudaraan jangan. Ikhtiar mencari dukungan boleh. Membeli loyalitas dengan kepentingan pribadi, itu yang harus dijauhi.”
Santri Muassis:
“Dalam Mabadi' Khaira Ummah, ada nilai ash-shidqu, al-'amanah, al-'adalah, dan at-ta'awun. Kalau empat prinsip ini hilang dari kontestasi, yang tersisa hanyalah kontestasi tanpa khair.”
Pemburu Kursi:
“Kalau semua harus ideal, kapan menangnya?”
Penjaga Marwah:
“Pertanyaan yang menarik. Tapi saya balik: kalau menang dengan kehilangan marwah, sebenarnya yang menang siapa?”
Suasana mendadak hening.
Jabatan dan Karpet Merah
Pemburu Kursi:
“Saya terus terang saja. Jabatan itu penting. Dengan jabatan, seseorang punya akses kepada kebijakan, anggaran, jaringan, bahkan dunia usaha. Kalau NU ingin besar, bukankah harus punya kekuatan ekonomi?”
Santri Muassis:
“Benar. NU membutuhkan kemandirian ekonomi. Tetapi ekonomi NU harus memperkuat jam'iyyah dan kemaslahatan warga, bukan menjadikan jam'iyyah sebagai ladang memperkaya elite.”
Penjaga Marwah:
“Persis. Ada perbedaan antara membangun ekonomi organisasi dengan mengorganisasi kepentingan ekonomi pribadi.”
Pemburu Kursi:
“Wah, kalimat terakhir itu tajam.”
Penjaga Marwah:
“Bukan tajam. Hanya diasah oleh pengalaman.”
Santri Muassis:
“Dalam kitab-kitab akhlak pesantren kita diajarkan bahwa penyakit hati sering lebih sulit dideteksi daripada penyakit badan. Karena itu ulama dahulu sangat takut terhadap hubbur ri'asah (kecintaan berlebihan terhadap kepemimpinan).”
Pemburu Kursi:
“Lho, kalau takut jabatan, mengapa mau menjadi pemimpin?”
Penjaga Marwah:
“Karena orang yang layak memimpin biasanya takut menyalahgunakan kepemimpinan. Sedangkan orang yang terlalu bernafsu terhadap jabatan kadang justru lupa bahwa jabatan itu amanah.”
Santri Muassis:
“Dalam bahasa pesantren: ojo ngaku nduwe amanah yen mung seneng karo mahkota, nanging wegah nggowo bebane. Jangan mengaku siap menerima amanah kalau hanya senang mahkotanya tetapi enggan membawa bebannya.”
Ulama sebagai Rem
Pemburu Kursi:
“Kalau begitu, siapa yang menjadi pengawas ketika persaingan semakin panas?”
Penjaga Marwah:
“Ulama yang memiliki ilmu, keteladanan, dan keberanian moral.”
Santri Muassis:
“Ulama bukan sekadar pemberi restu. Dalam tradisi NU, ulama adalah penjaga arah moral.”
Pemburu Kursi:
“Kalau ulama berbeda pendapat?”
Penjaga Marwah:
“Perbedaan pendapat adalah hal biasa. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan pendapat apalagi perbedaan pendapatan berubah menjadi permusuhan.”
Ia membuka sebuah kitab.
“Dalam tradisi fikih ada kaidah dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan didahulukan daripada meraih kemaslahatan). Maka kalau perebutan posisi tertentu berpotensi merusak persaudaraan dan organisasi, para pihak harus mampu mengerem diri.”
Santri Muassis:
“Jadi Muktamar jangan sampai berubah menjadi arena: siapa mendapatkan kursi, siapa kehilangan kawan.”
Pemburu Kursi:
“Kalau begitu, bagaimana menentukan pemimpin?”
Penjaga Marwah:
“Ukur kompetensinya. Ukur integritasnya. Ukur rekam jejak khidmahnya. Ukur kemampuan menjaga persatuan. Dan yang paling penting, lihat apakah ia mampu meletakkan kepentingan jam'iyyah di atas kepentingan kelompok.”
Baca juga: GERBANG TOLL PBNU, GERAKAN BARENG TOLAK LPJ PBNU
Santri Muassis:
“Bukan sekadar siapa yang paling banyak spanduknya.”
Pemburu Kursi:
“Wah, berarti baliho saya tidak menentukan?”
Penjaga Marwah:
“Baliho itu bisa besar. Tapi jangan sampai hurufnya besar, kapasitasnya kecil.”
Tawa kembali pecah.
Eksternal dan Internal NU
Santri Muassis:
“Yang lebih berbahaya adalah ketika kepentingan eksternal ikut memainkan dinamika internal NU.”
Pemburu Kursi:
“Bukankah NU organisasi besar? Wajar kalau banyak pihak berkepentingan.”
Penjaga Marwah:
“Wajar berkepentingan. Tetapi NU harus tetap memiliki independensi dalam mengambil keputusan.”
Santri Muassis:
“Jam'iyyah harus mampu bekerja sama dengan negara, masyarakat sipil, dunia usaha, dan berbagai kekuatan sosial. Tetapi kerja sama tidak boleh berubah menjadi ketergantungan.”
Pemburu Kursi:
“Jadi hubungan eksternal boleh?”
Penjaga Marwah:
“Boleh. Bahkan perlu. Tetapi jangan sampai ada yang masuk lewat pintu depan membawa ucapan ‘persahabatan’, lalu diam-diam mengatur furnitur di ruang tamu.”
Santri Muassis:
“Ha-ha! Kalau begitu tuan rumahnya harus tetap sadar bahwa rumah ini milik jam'iyyah, bukan milik tamu.”
Kembali kepada Khittah NU
Pemburu Kursi:
“Kalau semua ini diringkas menjadi satu pertanyaan, apa yang paling penting menjelang Muktamar?”
Santri Muassis menatap rak kitab.
“Kembali kepada khittah perjuangan.”
Penjaga Marwah mengangguk.
“Dan menjadikan ilmu serta akhlak sebagai kompas.”
Pemburu Kursi terdiam.
“Lalu saya harus bagaimana?”
Santri Muassis tersenyum.
“Silakan maju.”
“Serius?”
“Serius.”
“Boleh kampanye?”
“Boleh memperkenalkan gagasan.”
“Boleh mencari dukungan?”
“Boleh.”
“Boleh menang?”
“Boleh.”
“Kalau kalah?”
Baca juga: Al-Qur’an Jadi Gimmick, Miras Jadi Hadiah: Geger Challenge di Festival Musik Jakarta
Penjaga Marwah menjawab sambil tersenyum:
“Tetap jadi santri.”
Ketiganya tertawa.
Santri Muassis:
“Itulah ujian sebenarnya. Kalau menang tetap tawadhu, kalau kalah tetap menjaga ukhuwah. Karena yang diperebutkan bukan sekadar posisi, tetapi masa depan jam'iyyah.”
Penjaga Marwah:
“Jangan sampai setelah Muktamar kita mendapatkan struktur baru, tetapi kehilangan persaudaraan lama.”
Pemburu Kursi:
“Dan jangan sampai kita mendapatkan jabatan, tetapi kehilangan berkah.”
Mereka mengangguk.
Dari masjid terdengar suara azan Subuh.
Santri Muassis berdiri.
“Sudah waktunya.”
Pemburu Kursi ikut berdiri.
“Ke mana?”
“Shalat.”
“Setelah itu?”
“Musyawarah.”
“Untuk apa?”
“Untuk memastikan bahwa NU tetap menjadi jam'iyyah khidmah, bukan sekadar arena kontestasi.”
Penjaga Marwah menutup kitabnya.
“Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang memenangkan kursi.”
Ia berhenti sejenak.
“Sejarah juga akan mencatat siapa yang mampu menjaga marwah ketika kursi itu diperebutkan.”
Mereka berjalan menuju masjid.
Di atas meja, kopi yang tinggal setengah gelas masih mengepulkan asap.
Seolah mengingatkan bahwa dinamika Muktamar boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin, hati harus tetap bersih, dan persaudaraan harus tetap dijaga.
Sebab NU bukan warisan yang boleh diperebutkan seperti harta pribadi.
NU adalah amanah sejarah.
Dan amanah, dalam tradisi para ulama, bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan.
Ibrahnya sederhana:
Khidmah tanpa ilmu dapat kehilangan arah. Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan berkah. Kekuasaan tanpa amanah dapat menjadi fitnah. Tetapi ilmu, akhlak, amanah, ukhuwah, dan khidmah yang berjalan bersama akan menjadi benteng bagi jam'iyyah.
Maka menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, pertanyaan terpenting bukan hanya:
“Siapa yang akan memimpin?”
Melainkan:
“NU akan dibawa ke mana, dengan cara apa, dan untuk kemaslahatan siapa?”
Karena seorang santri sejati tidak bertanya terlebih dahulu, “Apa yang saya dapat dari NU?”
Ia bertanya:
“Apa yang dapat saya khidmahkan untuk NU, umat, bangsa, dan kemanusiaan?”
Catatan: Dialog ini bersifat imajinatif dan reflektif. Tokoh-tokohnya adalah representasi gagasan, bukan penggambaran individu atau kelompok tertentu.
Selamat dan Sukses Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, 27 - 31 Agustus 2026 “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.”
Penulis: Abdul Rasyid - Kader NU, Aktivis, Pemerhati Kebijakan Publik, Pendidikan, dan Kebudayaan.
Editor : D1N