SURABAYA, HNN - Di atas papan catur, sebuah langkah jarang berdiri sendiri. Satu bidak yang digerakkan hari ini dapat menentukan arah permainan beberapa langkah kemudian. Filosofi tentang membaca situasi, memperhitungkan risiko, menjaga posisi, dan berani mengambil keputusan itulah yang menemukan ruangnya dalam pembahasan mengenai kepemimpinan di hadapan sekitar 500 mahasiswa Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Selasa (18/8/2026), pukul 10.35–11.40 WIB, Bupati Nganjuk Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, A.Md., S.E., S.H., M.M., M.B.A. hadir sebagai pemateri dalam pembekalan bertajuk “Membangun Karakter Mahasiswa sebagai Fondasi Kepemimpinan.” Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog tentang satu persoalan mendasar: bagaimana perguruan tinggi menyiapkan generasi yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang dalam karakter dan kepemimpinan.
Baca juga: Kapolres Mojokerto Ajak HMI Asal Sultra Mengenal Sejarah Mojopahit
Marhaen, yang dikenal memiliki perhatian dan kompetensi di bidang olahraga permainan catur, membawa perspektif strategis itu ke dalam konteks yang lebih luas. Catur mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang bergerak paling cepat. Sebaliknya, permainan ditentukan oleh ketajaman membaca keadaan, ketenangan dalam mengambil keputusan, kemampuan mengantisipasi langkah lawan, serta keberanian menanggung konsekuensi dari setiap pilihan.
Dalam kepemimpinan, prinsip serupa berlaku.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kewenangan. Ia harus mampu membaca keadaan, memahami persoalan secara utuh, menimbang berbagai kemungkinan, kemudian mengambil keputusan dengan tanggung jawab.
Dari perspektif itulah, pembahasan mengenai karakter menjadi penting. Kepemimpinan bukan semata-mata persoalan jabatan, melainkan kualitas pribadi yang membuat seseorang layak dipercaya ketika berada di tengah persoalan.
Di hadapan ratusan mahasiswa FKP UNESA, Marhaen menekankan pentingnya karakter, integritas, tanggung jawab, serta keberanian dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang menentukan bagaimana seorang mahasiswa kelak menempatkan pengetahuan dan kompetensinya ketika memasuki ruang profesional maupun kehidupan bermasyarakat.
Dari Papan Catur ke Pangan: Belajar Membaca Masa Depan
Ada irisan menarik antara strategi permainan catur dan ketahanan pangan. Keduanya sama-sama menuntut kemampuan membaca situasi sebelum menentukan langkah.
Dalam catur, pemain harus memikirkan posisi setiap bidak dan konsekuensi dari langkah yang diambil. Dalam ketahanan pangan, pengambil kebijakan dan para ahli juga dituntut membaca berbagai variabel—mulai dari produksi, distribusi, perubahan lingkungan, teknologi, perilaku masyarakat, hingga dinamika ekonomi.
Karena itu, mahasiswa FKP UNESA tidak hanya membutuhkan pengetahuan teknis. Mereka membutuhkan cara berpikir strategis.
Ketahanan pangan bukan sekadar perkara bagaimana menghasilkan pangan, tetapi bagaimana memastikan pangan tersedia, terjangkau, berkualitas, berkelanjutan, dan mampu menopang kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
Baca juga: Mahasiswa Gempar Gruduk Dispenduk Capil Bangkalan
Di sinilah karakter kepemimpinan memperoleh konteks yang lebih besar. Generasi yang akan mengelola persoalan pangan masa depan harus memiliki kecerdasan untuk membaca perubahan sekaligus integritas untuk memastikan keputusan yang diambil tetap berpihak pada kepentingan publik.
FKP UNESA Menyiapkan Generasi SIAP
Pembekalan tersebut sekaligus memperkuat semangat FKP UNESA dalam membentuk mahasiswa dengan karakter SIAP: Smart, Innovative, Adaptive, dan Professional.
Smart berarti memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis. Innovative berarti mampu melahirkan gagasan dan solusi baru. Adaptive berarti sanggup menghadapi perubahan tanpa kehilangan pijakan nilai. Sementara Professional menuntut kompetensi, tanggung jawab, etika, dan konsistensi dalam menjalankan peran.
Empat karakter itu menjadi semakin relevan di tengah dunia yang bergerak cepat. Perubahan teknologi, kecerdasan artifisial, perubahan iklim, dinamika ekonomi, serta tantangan ketersediaan pangan menuntut generasi muda memiliki kemampuan lebih dari sekadar menghafal pengetahuan.
Mereka harus mampu membaca masa depan sekaligus ikut membentuknya.
Baca juga: Mahasiswa Desak Jokowi Segera Keluarkan Perpu KPK
Kehadiran Bupati Nganjuk memberikan mahasiswa kesempatan untuk melihat kepemimpinan dari perspektif seorang pemimpin daerah. Ruang akademik bertemu dengan pengalaman praktis pemerintahan, menciptakan jembatan antara teori yang dipelajari di kampus dan kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Bagi 500 mahasiswa yang mengikuti pembekalan tersebut, pesan kepemimpinan itu diharapkan tidak berhenti sebagai materi dalam sebuah forum. Ia menjadi bekal untuk membangun keberanian mengambil peran, mengembangkan gagasan, dan menghadirkan kontribusi nyata.
Sebab, sebagaimana dalam permainan catur, masa depan tidak ditentukan oleh satu langkah saja. Ia dibangun melalui rangkaian keputusan yang cermat, karakter yang kokoh, dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap pilihan.
Dari papan catur, mahasiswa belajar membaca langkah. Dari ketahanan pangan, mereka belajar membaca kebutuhan bangsa. Dan dari pendidikan, mereka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang mampu menentukan arah—bukan sekadar mengikuti permainan.
Dari karakter yang kuat lahir pemimpin yang hebat. Bersama FKP UNESA, generasi SIAP dipersiapkan untuk menjadi Smart, Innovative, Adaptive, dan Professional—pemimpin masa depan yang mampu berpikir strategis, bekerja berintegritas, dan memberi manfaat bagi Indonesia.(Mochammad Fasichullisan)
Editor : D1N