SURABAYA, HNN - Kemerdekaan tidak berhenti pada upacara, bendera, dan seremoni. Ia menemukan maknanya ketika diwariskan menjadi karakter, pengetahuan, solidaritas, dan keberanian generasi muda untuk menatap masa depan. Pesan itulah yang terasa kuat dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SMAN 12 Surabaya, Jumat (21/8/2026).
Melalui karnaval bertajuk “Semanggi, Solidaritas Rayakan Kemerdekaan” (Sorak2K26), sekolah tersebut mengubah jalan-jalan permukiman menjadi ruang belajar terbuka. Peserta didik bersama para wali kelas menyusuri kawasan Sememi dan Griyo Benowo Indah, Surabaya, dengan sepeda onthel yang dihias dan dimodifikasi menggunakan beragam gagasan kreatif.
Rute karnaval dimulai dan berakhir di kompleks SMAN 12 Surabaya. Dari lingkungan sekolah, rombongan bergerak menyusuri kawasan permukiman sebelum kembali ke titik akhir. Kehadiran para siswa dengan sepeda onthel menghadirkan atmosfer yang berbeda: sederhana dalam sarana, tetapi kaya dalam pesan.
Setiap kelas membawa identitas visual masing-masing. Sepeda onthel disulap menjadi representasi berbagai wajah Indonesia, mulai dari alat utama sistem persenjataan (alutsista), pertanian, teknologi, hingga kehidupan ekonomi masyarakat. Pedagang asongan, penjual sayur, dan penjual bakso turut dihadirkan sebagai bagian dari narasi kreatif peserta didik tentang Indonesia yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari.
Di antara ragam kreativitas itu, sebuah karya bertema teknologi penerbangan menjadi salah satu simbol yang menarik perhatian. Seorang peserta didik tampil mengendarai replika pesawat dengan membawa foto mendiang Hasri Ainun Besari (Ainun Habibie), sementara sosok Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie) direpresentasikan sebagai pilot.
Adegan tersebut bukan sekadar atraksi karnaval. Ia menjadi simbol tentang ilmu pengetahuan, teknologi, cinta, dan pengabdian kepada Indonesia. Sosok Habibie yang dikenal luas sebagai tokoh teknologi penerbangan Indonesia direpresentasikan melalui imajinasi anak-anak sekolah yang sedang belajar memahami bahwa kemajuan bangsa membutuhkan ilmu pengetahuan dan keberanian untuk bermimpi.
Dari sebuah sepeda onthel hingga replika pesawat, karnaval itu seolah merangkum perjalanan Indonesia: mengenang masa lalu, memahami perjuangan hari ini, dan menyiapkan generasi yang mampu membawa bangsa terbang lebih tinggi.
Kepala SMAN 12 Surabaya, Dr. Mugono, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak dirancang semata-mata untuk memeriahkan HUT RI. Lebih jauh, karnaval menjadi medium pendidikan karakter untuk memperkenalkan nilai nasionalisme sekaligus memperkuat kehidupan religius peserta didik.
“Dulu iman untuk merebut kemerdekaan. Sekarang iman untuk mengisi kemerdekaan,” ujar Mugono.
Menurut Mugono, pendidikan pada era Generasi Z menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Sekolah tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan akademik. Peserta didik juga harus memiliki karakter, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan fondasi spiritual yang kuat.
Karena itu, pendidikan karakter di SMAN 12 Surabaya dibangun melalui pembiasaan yang berlangsung dalam keseharian. Peserta didik dibiasakan melaksanakan salat berjemaah pada waktu Zuhur dan Asar di sekolah. Pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membangun keseimbangan antara kecakapan intelektual dan kematangan spiritual.
Penguatan religiusitas juga dilakukan melalui kegiatan khataman Al-Qur'an sebelum pembelajaran dimulai. Dalam satu bulan, kegiatan tersebut dapat dilaksanakan hingga tiga kali, sebagai bagian dari pembiasaan yang diarahkan untuk membangun kedisiplinan sekaligus kedekatan peserta didik dengan nilai-nilai keagamaan.
Bagi sekolah, nasionalisme dan religiusitas bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat menjadi fondasi karakter ketika ditempatkan dalam pendidikan yang kontekstual. Nasionalisme mengajarkan peserta didik mencintai bangsa dan menghargai perjuangan para pendahulu, sedangkan religiusitas membentuk kesadaran moral untuk menggunakan ilmu dan kebebasan secara bertanggung jawab.
Karnaval Sorak2K26 akhirnya menjadi sebuah panggung pendidikan yang bergerak. Di jalan-jalan Sememi dan Griyo Benowo Indah, peserta didik tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga membawa pesan tentang Indonesia yang mereka bayangkan: negara yang berakar pada sejarah, bertumbuh melalui pendidikan, dan bergerak menuju masa depan dengan teknologi serta karakter.
Sepeda onthel yang melintas di antara rumah-rumah warga menjadi metafora sederhana tentang perjalanan bangsa. Roda yang berputar mengingatkan bahwa kemerdekaan juga memiliki roda sejarah terus bergerak dari generasi ke generasi.
Sementara replika pesawat dengan sosok Habibie dan Ainun menghadirkan simbol lain: bahwa generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah. Mereka harus menjadi penerus yang mampu mengubah pengetahuan menjadi karya dan cita-cita menjadi kontribusi.
Di SMAN 12 Surabaya, kemerdekaan tidak sekadar dirayakan. Ia diajarkan, dibiasakan, dan ditanamkan—melalui nasionalisme, religiusitas, kreativitas, serta keberanian generasi muda untuk menerbangkan masa depan Indonesia.(Mochammad Fasichullisan)
Editor : D1N