Ade Puspita Kian Berpeluang Jadi Ketua DPD Golkar

Ade Puspita Kian Berpeluang Jadi Ketua DPD Golkar

Plt.Ketua DPD Golkar Kota Bekasi Ade Puspita Sari saat menyalurkan Bansos kepada salah seorang warga.

KOTA BEKASI, HNN - Musyawarah daerah ke V (Musda V) DPD Partai Golkar Kota Bekasi yang tertunda karena masalah internal, harus diambil hikmahnya. Sebab, musda kali ini dinilai strategis jika dilihat dari perkembangan politik lokal maupun nasional. Demikian disampaikan pengamat kajian politik dari Center for Public Policy Studies (CPPS) Indonesia, Nurseylla Indra Donna dalam keterangannya, Kamis (24/9/2020) kemarin.

Kendati didera berbagai isu penyebab tertundanya Musda V tersebut, sebenarnya para elite dan petinggi partai berlambang pohon beringin ini perlu memahami situasinya. Hal ini terkait dengan eksistensi Golkar Kota Bekasi kedepannya.

Menurut dia, dengan perolehan delapan kursi di DPRD Kota Bekasi, masih ada tugas berat yang harus diemban partai baik dalam menghadapi Pemilu 2024 atau lebih jauh lagi ke depan. Bagaimanapun masalah kepemimpinan ini memerlukan pemahaman bersama diantara elite partai senior ini, untuk menjadi partai yang maju dan terdepan.

Seperti diketahui Partai Golkar Kota Bekasi saat ini dipimpin oleh Plt Ade Puspita Sari, tengah menghadapi persoalan internal sehubungan dengan suksesi kepemimpinan. Ade sebagai salah satu kandidat bakal bertarung dengan dua kandidat lain yakni Nofel Saleh dan TB Hendra dalam musda yang ditunda tersebut.

"Publik sangat berharap dari ketiganya agar muncul pemimpin partai yang diharapkan dapat membawa partai menjadi lebih maju dan disegani dalam percaturan politik baik pada tingkat lokal dan regional maupun nasional di tanah air. Karena, debut partai di daerahnya akan memberikan pengaruh besar kepada publik yang ingin melihat Partai Golkar menjadi besar melalui kadernya yang visioner,” ujar Seylla.

Dia menilai, selama ini PG Kota Bekasi dipimpin oleh Rahmat Effendi yang juga walikota Bekasi eksis dengan kiprahnya di tengah publik dan internal partai. Rahmat Effendi atau akrab disapa Bang Pepen, dalam memimpin DPD PG Kota Bekasi telah membawa partai beringin ini pada posisi tiga besar dengan delapan kursi, di bawah PKS (12 kursi) sebagai partai tertinggi perolehan suaranya pada pemilu lalu dan PDI-P (12 kursi) kedua tersebar dari total 50 kursi anggota DPRD Kota Bekasi pada pemilu lalu.

“Tentu saja PG akan memperkuat posisinya secara terus menerus di legislatif maupun melalui kepemimpinan daerah, dengan membesarkan partai. Pepen akan mendukung kader yang punyai visi dan misi ke depan agar partai ini tidak tergilas dalam pusaran politik lokal dan nasional,” tandas peneliti muda CPPS ini.

Pada kondisi ini, lanjut Seylla, Musda kelima PG Kota Bekasi ini bernilai strategis. Penggalangan kekuatan partai dengan dukungan seluruh kader untuk mengambil posisi lebih kuat lagi di DPRD misalnya, adalah bagaimana posisi kursinya pada pemilu nanti naik atau lebih dari delapan kursi pada periode 2019-2024 ini.

Lebih lanjut, kata Seylla sudah barang tentu, hal ini memerlukan kepiawaian pemimpin sebagaimana diperankan Pepen yang membawa partainya eksis di tengah publik Kota Bekasi. Begitu seterusnya, sebagai pimpinan partai, Pepen tidak akan mengambil risiko jika partai yang sudah melegenda ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak melekat pada masyarakat daerah ini baik dari sisi budaya maupun sosial politik lokal.

Apalagi, Ade sebagai kandidat ketua bersama Nofel Saleh dan TB Hendra mempunyai nilai lebih terkait dirinya yang berhasil duduk di DPRD Provinsi Jawa Barat pada pemilu lalu.

Bagi dia, posisi ini akan lebih mengangkat popularitasnya di tengah publik. Dengan agenda yang akan dilaksanakan melalui program kerja partai akan memerkuat secara terus menerus posisinya dan menjadi tolok ukur esksistensi partai di tengah publik.

"Sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat kiprahnya akan membawa dirinya semakin dikenal. Melalui konstituennya di daerah yang diwakili, Ade akan semakin populer dan meskipun bisa pula biasa-biasa saja atau malahan menjadi tidak dikenal bila dia tidak memainkan peran sebagaimana diamanahkan kepadanya membawa aspirasi rakyat di wilayahnya," ujar Seylla.

Seylla berpandangan, bahwa waktu singkat ini merupakan kesempatan yang akan menjadi faktor penentu tingkat popularitasnya. Sudah jelas, sebagai wakil rakyat Ade tidak akan membuang-buang waktu dan kesempatan tersebut. Justru hal itu akan menjadi nilai tambah baginya untuk memperlihatkan kepada publik maupun di tubuh partai.

Dengan begitu, perkembangan Ade sebagai elite PG Kota Bekasi ini akan memperkuat baik posisi dirinya maupun partai di jagad sosial politik kota penyangga di timur Ibukota, DKI Jakarta.

“Tidak saja kalangan kader partai, namun publik akan melihat berdasarkan kiprahnya itu, bahwa Ade memang pantas diusung untuk menjadi kandidat ketua DPD PG pada musda yang masih ditunggu waktunya,” ucap  Seylla.

Menurut Seylla, pertarungan kandidat dalam musda kali ini akan menampakkan diri mewakili zamannya masing-masing. Sekarang adalah era millenial dan berpotensi estafet kepemimpinan Golkar dipegang oleh kaum millennial. (red)

 

Image