Covid-19

Ekonomi Surabaya Lebih Jatuh Karena Tak Melakukan Lockdown

Ekonomi Surabaya Lebih Jatuh Karena Tak Melakukan Lockdown

Surabaya, HNN - Mencegah lebih baik daripada mengobati itu pronsip dari "LOCKDOWN. “

Ketua umum Partai Bulan Bintang Prof. Yusril Ihza Mahendra, meminta kepada pemerintah untuk mengambil kebijakan lockdown atau karantina wilayah guna menekan penyebaran COVID-19.

Senada dengan itu Ketua DPC PBB Kota Surabaya Samsurin berharap surabaya lockdown sebagai pencegahan merebaknya virus corona, walaupun Walikota Surabaya Tri Rismaharini tidak setuju menerapkan Locdown dengan alasan bahwa menerapkan lockdown ekonomi di surabaya bisa collaps, Risma pun sempat mengatakan kalau lockdown lebih parah daripada corona.

"Pernyataan seperti itu tidak pantas dikatakan oleh seorang pemimpim disaat kondisi kita dalam keadaan bencana, iku kedunyan jenenge. Tidak sadar kalau di uji oleh Allah SWT, bagaimanapun covid-19 lebih berbahaya ketimbang collape masalah ekonomi. Apalagi surabaya dalam status zona merah", ungkap Samsurin yang akrab disapa Cak Surin.

Lanjut Surin, Keadaan ekonomi saat ini pastilah susah , masyarakat kecil yang kerja tidak bisa tenang lagi, warkop warkop di obrak dibubarkan, sementara mall mall di surabaya tetap di buka walaupun pengunjung sepi, bahkan di fasilitasi dengan bilik strelilisasi di beberapa mall.

"Harusnya seluruh mall di Surabaya di tutup sementara biar tidak banyak orang berinteraksi. Lebih prihatin lagi orang menabung untuk melangsungkan hajat perkawinan dibubarkan paksa tanpa memikirkan ganti rugi sosialnya atau biaya yang sudah kadung mereka keluarkan, seharusnya ganti rugilah sebelum dibubarkan, dan itu tanggung jawab pemerintah. Langkah antisipasi juga harus disertai prinsip kemanusiaan dan keadilan. Kalau sudah seperti ini Berarti dampak pencegahan covid 19 ini lebih parah dari apa yang dibandingkan Risma dengan ekonomi collape," tegas Surin.

Seminggu yang lalu (20/03/2020), Cak Surin mengkampayekan lewat poster di beberapa media online dengan tag “ Prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati itu adalah "LOCKDOWN“.

"Kami meminta Walikota Surabaya untuk melakukan lockdown guna menekan penyebaran dan menghentikan ganasnya virus ini secepat mungkin", harap Surin.

Tambah Cak Surin, stop pencitraan yang dilakukan walikota Surabaya, karena Hal hal yang dilakukan selama ini tidak berdampak signifikan, ODP, PDP dan yang positif terjangkit covid-19 malah bertambah, kita berharap ada kabar baik dari kesembuhan orang orang yang di nyatakan positif covid-19.

"Kami sedang tidak beropini melainkan terus akan mengawasi kebijakan yang dilakukan selama ini yang terlalu mencari popularitas sebagai emak e wong suroboyo", katanya.

"Sudah banyak anggaran yang di keluarkan untuk stock masker, dapur umum, yang menurut saya tidak efisien, pemerintah kota seharusnya segera membagi bahan pokok dan mengkarangtina seluruh warga untuk beberapa hari, khusunya daerah yang sudah menjadi pandemi covid -19, baru setelah itu dilaksanakan penyemprotan massal", ucap Surin.

"Bukan malah sering bikin vlog menunjukkan aksi pesawat drone menyemprot disinfektan, bukan malah membuat bilik bilik sterilisasi, yang mengundangan keinginan warga datang mencoba bilik tersebut. Bolehlah bikin bilik steril untuk tempat ibadah dan tempat tempat yang di anggap vital saat ini seperti gedung pemerintahan “kata Ketua DPC PBB Kota Surabaya.

"Saya mendesak dilakukan lockdown . Lalu segera kirim semboko ke tiap tiap rumah agar warga bisa melakukan lockdown mandiri di rumah masing masing. Beri keringanan biaya bidup yang lainnya seperti token listrik dan jaminan air layak di minum. Kawal juga instruksi presiden dan ojk mengenai penangguhan cicilan bagi warga yang punya cicilan biar tidak menjadi kegaduhan dengan para lising", desak Surin.

"Stop fasilitas bilik sterililasi di mall - mall, itu kan hanya menguntungkan pihak tertentu.kalau diangap penting ya pasang bilik di setiap gapura gapura warga. Tidak perlu memamerin alat canggih seperti pesawat drone , yang diperlukan itu lock down bukan pesawat drone", tegas Surin. (*)

Image