Jamhadi : Perlu Kolaboratif Menyiapkan SDM Unggul di Era Disrupsi

Jamhadi : Perlu Kolaboratif Menyiapkan SDM Unggul di Era Disrupsi

Jamhadi (kedua dari kanan) bersama pengurus Perkumpulan Doktor Indonesia Maju di Jakarta usai jadi narasumber seminar nasional.

Jakarta - Dr. Ir. Jamhadi, MBA, menjadi narasumber dalam Seminar Nasional "Akselerasi Mewujudkan SDM Indonesia Unggul di Era Revolusi Industri 4.0" dan Deklarasi Perkumpulan Doktor Indonesia Maju (PDIM) di Universitas Respati Kampus B, Jakarta Timur, Minggu (22/12/2019).

Dalam paparannya, Jamhadi yang menyandang jabatan sebagai Ketua Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag 45 Surabaya ini mengingatkan bahwa dunia usaha sudah memasuki revolusi industri 4.0 dengan adanya disrupsi di sejumlah sektor.

Misalnya toko konvensional yang ada sudah mulai tergantikan dengan model bisnis marketplace. Taksi atau ojek tradisional mulai tergeser oleh moda-moda berbasis aplikasi, atau e-money yang menggantikan banyak teller di perbankan.

"Suka tidak suka, kita sekarang sudah hidup di ra revolusi Industri 4.0. Satu era yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya, karena ada tantangan dan peluang yang harus kita hadapi sekarang ini. Tidak ada pilihan lain bagi kita selain upgrade dan mengembangkan SDM yang unggul," ujar Jamhadi, CEO PT Tata Bumi Raya sekaligus pendiri 'Jamhadi Center' yang bergerak di bidang riset, entrepeneur, dan pengembangan SDM.

Jamhadi melanjutkan, di era 4.0 banyak peluang yang bisa dimanfaatkan sesuai dengan fokus Pemerintah RI di 5 sektor potensial, yakni food and beverage, textile, automotive, electronic and chemical. Sektor-sektor ini diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja setiap tahunnya dan akan banyak kompetensi yang akan dibutuhkan.

Untuk memanfaatkan peluang itu sebaik mungkin, generasi saat ini harus memiliki skill yang dibutuhkan industri masa depan. Pertama Complex Problem Solving, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah yang asing dan belum diketahui solusinya di dalam dunia nyata.

Kedua Social Skill, yakni kemampuan untuk melakukan koordinasi, negosiasi, persuasi, mentoring, kepekaan dalam memberikan bantuan hingga emotional intelligence.

“Ada juga yang disebut Process Skill, yaitu kemampuan yang terdiri dari active listening, logical thinking, dan monitoring self and the others,” tutur Co-founder Surabaya Creative City Forum (SCCF) tersebut.

System Skill juga tak kalah penting. Yaitu kemampuan untuk dapat melakukan judgement dan keputusan dengan pertimbangan cost-benefit serta kemampuan untuk mengetahui bagaimana sebuah sistem dibuat dan dijalankan.

"Era digitalisasi dan industri kreatif berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru di Indonesia pada tahun 2025. Harus ada komitmen peningkatan investasi di pengembangan digital skills,” tegas Direktur Kadin Institute ini.

Di sisi lain dengan mengutip data dari Gerd Leonhard, ‘Futurist’, Jamhadi menyebutkan bahwa secara global era digitalisasi akan menghilangkan sekitar 1 miliar sampai 1,5 miliar pekerjaan di dunia sepanjang tahun 2015-2025 karena digantikannya posisi manusia dengan mesin otomatis.

Jamhadi bersama peserta seminar

Ancaman lain adalah diestimasi bila di masa depan, 65% murid sekolah dasar di dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada di hari ini.

”Saat ini saja anak-anak bercita-cita sebagai youtuber. Di era 70an hingga 90-an hal itu belum pernah terbayangkan,” katanya.

Untuk itulah perlu disiapkan SDM unggul yang kreatif, inovatif, produktif, dan berdaya saing. Guna mencapai itu, Pemerintah memiliki target di tahun 2020 ialah pembangunan SDM Unggul dengan IPM 7,25℅, pertumbuhan ekonomi 5,6 ℅, tingkat kemiskinan 9,0 ℅, tingkat pengangguran 5,1℅.

"Untuk itu, kami sudah menyiapkan beberapa program untuk mensinergikan dengan target Pemerintah. Yakni merekomendasikan perubahan kurikulum dengan memasukkan materi terkait human-digital skills, advance preneur riset center, pelatihan SDM untuk menyiapkan SDM terampil guna memenuhi kebutuhan pasar kerja, neraca tenaga kerja dan produk, inkubator bisnis, dan infrastruktur IT," jelas Jamhadi, Dewan Pembina ISMI Jawa Timur.

Dengan kesiapan SDM akan menunjang faktor penentu dalam penanam investasi di masa yang akan datang. Apalagi selama tahun 2018, industri kreatif mampu menyumbang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional sebesar Rp 1.000 triliun. 

Adapun tiga sub sektor yang menjadi penopang utamanya, yaitu industri kuliner sebesar 41,69%, fashion 18,15% dan kriya 15,70%. Sementara kontribusi industri animasi terus meningkat yang saat ini sudah 6%.

Selain itu, selalu mencoba dan menerapkan prototype teknologi terbaru, learn by doing, menggali bentuk kolaborasi baru bagi model sertifikasi atau pendidikan dalam ranah peningkatan digital skill.

Juga harus ada kolaborasi antara dunia industri, akademisi, dan masyarakat untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan skill bagi era digital di masa depan.

"Dan menciptakan tenaga kerja berkualitas dan terampil yang dibutuhkan Indonesia. Dan ini salah satunya harus dihasilkan oleh Perguruan Tinggi yang bermutu,” tutup pria yang juga merupakan Ketua Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara Wilayah Jawa Timur ini. (*)

Image