Pertemuan Ade Puspita Dengan Ketum Kosgoro 1957 Diapresiasi

Pertemuan Ade Puspita Dengan Ketum Kosgoro 1957 Diapresiasi

Pertemuan Ade Puspita bersama tokoh Golkar Agung Laksono dan Ketum Kosgoro 1957 Dave Laksono. (Foto: dok. HNN)

JAKARTA, HNN - Konsolidasi politik yang dilakukan oleh anggota DPRD Jawa Barat Ade Puspita terhadap sejumlah tokoh senior Golkar merupakan langkah yang bijak dalam rangka menyamakan persepsi jelang pelaksanaan musyawarah daerah (Musda) Golkar Kota Bekasi.

Direktur Analisis dan Kajian Politik Center for Public Policy Studies (CPPS) Indonesia, Nurseylla Indra, menilai apa yang dilakukan Ade Puspita dalam rangka mengatasi kemelut di partai berlambang beringin di Kota Bekasi itu patut diapresiasi.

Seprti sebelumnya, Ade Puspita bersama tokoh Golkar Kota Bekasi Rahmat Effendi didampingi Plt DPD Golkar Jawa Barat Ace Hasan menemui ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Dan baru-baru ini, berdasarkan foto yang beredar, Ade Puspita bersama Rahmat Effendi berfoto bersama Agung Laksono yang juga sesepuh Golkar didampingi Ketua Umum Kosgoro 1957 Dave Laksono. Hadir dalam dalam pertemuan tersebut petinggi Golkar lainnya seperti, Iswara.

"Proses rekonsiliasi politik yang dilakukan Ade tentu patut diapresiasi. Terlebih yang ditemui oleh Ade itu Ketum Kosgoro 1957 yang juga merupakan sosok generasi milenial yang sama-sama duduk menjadi wakil rakyat. Nah, tentunya hadirnya kedua generasi muda itu dalam rangka memajukan partai agar lebih baik," kata Seylla kepada wartawan di Jakarta, Rabu (12/5/2021).

Terkait dengan tertundanya Musda Golkar Kota Bekasi, Seylla berpandangan hal itu merupakan dinamika internal partai yang perlu disikapi dengan bijak oleh semua kader.

"Yang perlu diwaspadai oleh elit Golkar di tingkat pusat adalah munculnya kader destruktif yang berpotensi memecah-belah partai. Jangan sampai peristiwa dualisme kepemimpinan partai Golkar kembali muncul," kata Seylla, tanpa menyebut siapa nama kader yang dimaksud.

Oleh karena itu, Seylla menyarankan agar semua kader bersatu kembali untuk memajukan Golkar Kota Bekasi. Sehingga perolehan kursi di DPRD kembali meningkat.

"Biarlah suksesi kepemimpinan Golkar Kota Bekasi berjalan dengan fair dan demokratis. Terkait siapa yang berhak memimpin Golkar di Bekasi, tentunya yang memiliki hak suara terbanyak," katanya. Seylla menyarankan bagi para pendukung calon kandidat ketua DPD Golkar Kota Bekasi agar berpolitik yang santun. Hindari cara-cara yang kurang beradab.

"Terlebih, bila sesama kader dan calon kandidat ketua menyampaikan diksi-diksi yang kurang mendidik di ruang publik, seperti saling hujat di medsos. Kalau itu dilakukan tentunya akan merusak partai Golkar itu sendiri," tandasnya. (Man)

Image